Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Zohran Mamdani. Wali Kota Muslim New York yang Tolak Dana dari Korporasi dan Miliarder

Jauhar Yohanis • Kamis, 6 November 2025 | 14:04 WIB

Zohran Mamdani, memenangi pemilihan Walikota New York pada 5 November 2025
Zohran Mamdani, memenangi pemilihan Walikota New York pada 5 November 2025

Nama Zohran Mamdani kini menjadi perbincangan hangat di Amerika Serikat. Dalam usia 34 tahun, ia menorehkan sejarah sebagai Wali Kota Muslim pertama di New York, menandai babak baru dalam politik Amerika yang kian beragam dan inklusif.

Kemenangannya bukan sekadar hasil pemilu, tetapi juga kemenangan ide—tentang keadilan sosial, kesetaraan, dan politik yang berpihak pada rakyat kecil. Pesan yang ia bawa sederhana namun menggugah: “Hidup di kota ini tidak seharusnya sesulit sekarang.”

Dari Kampala ke Bronx: Jejak Diaspora dan Identitas

Lahir di Kampala, Uganda, Mamdani berasal dari keluarga intelektual keturunan India. Ayahnya, Mahmood Mamdani, adalah sutradara sekaligus cendekiawan ternama, sementara ibunya, Mira Nair, dikenal luas sebagai sutradara dan akademisi dunia perfilman.

Saat berusia tujuh tahun, Mamdani dan keluarganya hijrah ke New York City. Di sekolah menengah Bronx High School of Science, ia membentuk tim kriket pertama—sebuah langkah kecil yang kelak menjadi simbol kemampuannya menyatukan orang-orang lintas ras dan budaya.

Aktivisme dan Jalan Menuju Politik

Ketertarikannya pada isu sosial tumbuh sejak muda. Setelah lulus dari Bowdoin College dengan jurusan Africana Studies, Mamdani aktif membela hak-hak masyarakat Palestina dan kaum tertindas.

Sebelum terjun ke politik, ia bekerja sebagai konselor pencegahan penyitaan rumah, membantu warga miskin bertahan dari krisis ekonomi. Pengalaman itu menumbuhkan keyakinan bahwa kebijakan publik harus berpihak pada yang lemah.

Pada 2020, Mamdani mencatat sejarah sebagai anggota parlemen negara bagian New York dari distrik ke-36—menjadi pria Asia Selatan pertama dan warga Uganda pertama yang menduduki kursi tersebut.

Politik Generasi TikTok

Mamdani memahami bahasa zaman. Melalui TikTok dan Instagram, ia mengubah politik menjadi ruang yang ringan namun bermakna. Ia menciptakan istilah viral “halalflation”, menggambarkan naiknya harga bahan halal dengan gaya jenaka namun menyentuh.

Dalam salah satu videonya, ia menyelam ke laut dingin Coney Island setelah berjanji membekukan harga sewa—simbol komitmen terhadap warga kelas pekerja. Sementara di New York City Marathon, ia berlari sambil bicara tentang krisis perumahan.

Pendekatan itu berhasil. Mamdani kini dianggap mewakili politik generasi muda, yang lebih otentik, transparan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Politik Tanpa Korporasi

Selama kampanye, Mamdani menolak dana dari korporasi besar dan miliarder. Ia membangun gerakan akar rumput bersama ribuan sukarelawan—mayoritas anak muda, imigran, dan warga kelas pekerja.

Ia berbicara dalam bahasa Urdu, Hindi, dan Spanyol, mengunjungi masjid, toko kecil, dan stasiun bawah tanah. “Saya berbicara untuk pemilik toko asal Yaman, nenek dari Meksiko, sopir taksi asal Senegal, perawat dari Uzbekistan, dan juru masak dari Trinidad,” ujarnya.
“Kota ini milik kalian, dan demokrasi ini milik kalian juga.”

Cinta, Politik, dan Keberanian

Pada 2021, Mamdani bertemu Rama Duwaji, seniman keturunan Suriah-Amerika. Mereka menikah awal 2025 di balai kota New York—sebuah potret indah dari keberagaman yang ia perjuangkan.

Namun, jalan politiknya tidak selalu mudah. Ia kerap diserang oleh kelompok konservatif dan menjadi sasaran ujaran kebencian bernuansa Islamofobia. Bahkan mantan Presiden Donald Trump pernah menyindirnya di media sosial.

Tapi Mamdani tetap teguh. “Saya Muslim, saya seorang demokrat sosialis, dan saya tidak akan pernah meminta maaf untuk itu,” tegasnya dalam pidato kemenangannya.

Harapan Baru dari Kota yang Tak Pernah Tidur

Zohran Mamdani kini bukan sekadar pemimpin kota. Ia simbol kebangkitan generasi baru Amerika—muda, progresif, dan tak takut menantang status quo.

Dengan keberanian dan empatinya, Mamdani membuktikan bahwa politik bisa menjadi ruang cinta dan solidaritas, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Dari Bronx hingga Balai Kota, dari aktivis ke wali kota, kisahnya menegaskan satu hal: Amerika sedang berubah—dan perubahan itu datang dari bawah.

Editor : Jauhar Yohanis
#Zohran Mamdani #Wali Kota New York Muslim Pertama