Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waspada! Amerika Keluarkan Daftar Negara Terlarang Dikunjungi, Apa Pemicunya?

Internship Radar Kediri • Kamis, 5 Juni 2025 | 21:48 WIB
Ilustrasi Amerika Serikat
Ilustrasi Amerika Serikat

JP Radar Kediri - Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu negara dengan kebijakan perjalanan yang ketat, terutama terkait dengan negara-negara yang dianggap berisiko bagi keamanan nasional atau diplomasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pembaruan daftar negara yang dilarang dikunjungi telah menimbulkan perdebatan global. Pemerintah AS dapat menambah atau mengurangi jumlah negara dalam daftar tersebut, berdasarkan pertimbangan keamanan, hubungan internasional, atau kebijakan luar negeri.

Kebijakan larangan perjalanan bukanlah hal baru bagi Amerika Serikat. Sejak beberapa dekade lalu, pemerintah AS telah menerapkan pembatasan terhadap negara-negara yang dianggap memiliki risiko tinggi dalam hal keamanan atau yang memiliki konflik diplomatik dengan AS.

Beberapa Faktor Pemicu Pembatasan Negara Kunjungan

1. Keamanan Nasional
Negara-negara yang dianggap memiliki ancaman terorisme atau instabilitas politik dapat dimasukkan dalam daftar larangan.

2. Ketegangan Diplomatik
Jika terjadi perselisihan politik antara AS dengan negara tertentu, pemerintah AS bisa memberlakukan pembatasan perjalanan sebagai bentuk tekanan diplomatic.

3. Kesehatan Global
Dalam beberapa kasus, larangan perjalanan diberlakukan akibat wabah penyakit yang berpotensi menyebar ke AS.

4. Sanksi Internasional
Negara yang dikenai sanksi ekonomi atau politik oleh AS dapat masuk dalam daftar larangan perjalanan sebagai bagian dari tekanan global.

Keputusan untuk menambah jumlah negara yang dilarang dikunjungi memiliki implikasi yang luas, baik bagi warga AS, negara yang terkena dampak, maupun komunitas internasional. Berikut beberapa dampaknya:

Negara-negara yang terkena larangan perjalanan sering kali melihat kebijakan ini sebagai bentuk tekanan politik dari AS. Dalam beberapa kasus, larangan semacam ini dapat memperburuk hubungan bilateral dan meningkatkan ketegangan diplomatik. Negara yang terkena dampak mungkin akan membalas dengan kebijakan serupa terhadap warga AS.

Bagi warga AS yang memiliki keluarga, bisnis, atau kepentingan lain di negara yang terkena larangan, kebijakan ini bisa menjadi penghalang. Larangan perjalanan dapat mempersulit warga negara AS untuk mengunjungi atau berinteraksi dengan keluarga dan kolega mereka yang tinggal di negara tersebut.

Setiap kali AS memperbarui daftar negara yang dilarang dikunjungi, reaksi dari komunitas internasional dan publik AS sering kali bermunculan. Kelompok advokasi hak asasi manusia, organisasi internasional, dan warga negara yang terkena dampak dapat menyuarakan kritik terhadap kebijakan tersebut.

Sebagai contoh, ketika pemerintahan Donald Trump menerapkan kebijakan travel ban terhadap beberapa negara mayoritas Muslim pada 2017, berbagai protes terjadi di AS dan negara lain. Banyak pihak yang menganggap kebijakan tersebut diskriminatif dan tidak efektif dalam meningkatkan keamanan nasional.

Pembaruan larangan perjalanan oleh Amerika Serikat selalu menjadi topik yang kontroversial dan berdampak luas. Kebijakan ini dapat berpengaruh terhadap hubungan internasional, ekonomi global, serta hak individu. Meskipun sering kali diklaim sebagai langkah untuk melindungi keamanan nasional, efektivitas dan implikasi jangka panjangnya tetap menjadi bahan diskusi di kalangan pengamat politik dan kebijakan internasional.

Saat ini, negara-negara yang dilarang dikunjungi oleh warga Amerika Serikat adalah Iran, Iraq, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, Yaman, Afghanistan, Chad, Kongo, Republik Guinea, Eritrea, Haiti, dan Myanmar.

Penulis: Laila Karima

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#trump #amerika #terlarang #Negara #serikat