JP Radar Kediri - Sebuah catatan sejarah baru kembali terukir dalam tradisi Gereja Katolik dunia. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari tiga setengah abad, seorang Paus dimakamkan bukan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, melainkan di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma.
Adalah Paus Emeritus Benediktus XVI, yang semasa hidupnya dikenal dengan kesederhanaan dan kecintaannya pada tradisi klasik gereja, yang kini beristirahat untuk selamanya di tempat suci bersejarah tersebut.
Upacara pemakaman yang digelar dengan khidmat ini disambut penuh haru. Ribuan umat, dari berbagai belahan dunia, turut hadir memberikan penghormatan terakhir.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tunjuk Jokowi Wakili Indonesia di Pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan
Paus Fransiskus sendiri memimpin misa requiem, memperlihatkan bagaimana persaudaraan dan rasa hormat tetap terjaga meski Benediktus XVI telah mengundurkan diri dari tahta kepausan pada tahun 2013 lalu, sesuatu yang sebelumnya hampir tak pernah terjadi dalam sejarah modern Gereja Katolik.
Pilihan lokasi pemakaman di Basilika Santa Maria Maggiore bukanlah keputusan sembarangan. Semasa hidupnya, Benediktus XVI memiliki ikatan batin yang kuat dengan basilika tersebut.
Ia kerap menghabiskan waktu dalam doa di tempat suci ini, mengagumi keindahan mosaik kuno serta suasana spiritual yang kental.
Baca Juga: Dari Popemobile hingga Maung, Pilihan Mobil Paus Fransiskus yang Sarat Nilai Kesederhanaan
Permintaan pribadinya untuk dimakamkan di sana pun dikabulkan Vatikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya selama bertahun-tahun.
Basilika Santa Maria Maggiore sendiri merupakan salah satu dari empat basilika utama di Roma yang sarat sejarah, dikenal luas karena peranannya dalam perkembangan awal Gereja dan seni sakral Kristen.
Terletak di puncak Bukit Esquiline, bangunan megah ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting Gereja selama berabad-abad.
Baca Juga: Kapan dan Di mana Paus Fransiskus akan Dimakamkan? Umat Katolik Seluruh Dunia Berduka
Kepergian Benediktus XVI bukan hanya meninggalkan duka, namun juga mengukuhkan warisan iman, keteladanan, dan kerendahan hati yang akan terus dikenang oleh generasi mendatang.
Lewat prosesi pemakaman di tempat bersejarah itu, Gereja Katolik sekaligus memberikan pesan mendalam bahwa kebesaran seorang pemimpin tidak hanya terletak pada takhta yang ia duduki, tetapi juga pada jejak ketulusan yang ia tinggalkan.
Basilika Santa Maria Maggiore dibangun pada abad ke-5 Masehi, pada masa Paus Sixtus III, tidak lama setelah Konsili Efesus yang menegaskan dogma Maria sebagai Bunda Allah.
Legenda setempat menyebutkan bahwa lokasi pembangunan basilika ditentukan oleh keajaiban turunnya salju di Bukit Esquiline pada musim panas tahun 358 M, sebuah peristiwa yang dikenang hingga kini lewat perayaan tahunan.
Basilika ini menggabungkan keindahan seni Romawi kuno, mosaik Bizantium, dan arsitektur Renaisans, menjadikannya salah satu situs ziarah utama umat Katolik dari seluruh dunia.
Sepanjang sejarahnya, Santa Maria Maggiore telah mengalami berbagai renovasi dan perluasan, namun tetap mempertahankan esensi spiritual dan artistik yang membuatnya begitu dihormati.
Basilika ini bukan hanya menjadi simbol penghormatan terhadap Bunda Maria, tetapi juga bukti nyata perjalanan panjang iman umat Katolik selama ribuan tahun.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira