JP Radar Kediri - Ketika mendengar kata Songkran, yang langsung terbayang mungkin adalah siram-siraman air di jalanan, wajah-wajah ceria, serta suasana penuh tawa dan kegembiraan.
Namun siapa sangka, di balik semarak perayaan Tahun Baru ala Thailand itu, tersembunyi sisi kelam yang membuatnya dijuluki sebagai salah satu festival paling menyeramkan di dunia.
Setiap tahunnya, Festival Songkran dirayakan pada tanggal 13 hingga 15 April, meski libur resminya bisa berlangsung hingga seminggu.
Tradisi ini berasal dari budaya kuno Hindu-Buddha, yang menandai awal tahun baru dengan kegiatan membersihkan rumah, memberi penghormatan kepada orang tua, serta menyiramkan air suci sebagai simbol penyucian diri dari dosa dan nasib buruk.
Baca Juga: Festival Songkran 2025 di Thailand Berujung Duka, 200 Orang Meninggal karena Kecelakaan
Namun, dalam perkembangannya, ritual penyiraman air itu berubah menjadi perang air massal di jalanan.
Mulai dari warga lokal hingga turis mancanegara, semua turun ke jalan membawa ember, pistol air, bahkan selang. Kota-kota besar seperti Bangkok, Chiang Mai, dan Phuket seakan jadi medan laga basah-basahan tanpa henti.
Sayangnya, keseruan itu dibarengi dengan meningkatnya angka kecelakaan, terutama di jalan raya.
Karena itulah, Songkran juga dikenal dengan sebutan “Tujuh Hari Berbahaya”. Julukan ini muncul lantaran tiap tahun, ratusan orang kehilangan nyawa dalam periode tersebut, sebagian besar akibat kecelakaan lalu lintas yang dipicu oleh mengemudi dalam keadaan mabuk, ugal-ugalan, atau tidak mengenakan helm.
Pada Songkran 2025 ini saja, tercatat 200 orang meninggal dunia dan 1.362 lainnya terluka dalam 1.377 kecelakaan yang terjadi selama 11–16 April.
Baca Juga: Fakta-Fakta Tragis di Balik Festival Songkran 2025: 200 Nyawa Melayang
Angka ini sebenarnya sudah menurun dibanding tahun sebelumnya, namun tetap jadi catatan hitam dalam sejarah festival ini.
Banyak warga Thailand bahkan mengaku enggan bepergian jauh selama Songkran karena takut terlibat kecelakaan.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka korban, mulai dari razia kendaraan, pos pengamanan, hingga kampanye keselamatan yang masif lewat media sosial.
Festival penuh makna spiritual ini kini seolah kehilangan esensinya. Apa yang dulu sakral dan penuh hormat, berubah jadi ajang pesta air yang rawan bahaya.
Tak heran jika sebagian kalangan menyebut Songkran sebagai festival yang ‘menyeramkan’, terutama bagi mereka yang kehilangan orang tercinta di tengah gegap gempita perayaan.
Bagi wisatawan asing, Songkran memang jadi pengalaman unik yang tak terlupakan. Tapi bagi sebagian rakyat Thailand, festival ini lebih dari sekadar siram-siraman—itulah saat di mana doa keselamatan jadi lebih penting daripada kesenangan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira