JP Radar Kediri - Wacana produksi iPhone di Amerika Serikat kembali mencuat setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, mendorong Apple agar memindahkan proses manufakturnya dari Cina ke dalam negeri. Namun, berapa harga iPhone jika benar-benar diproduksi di AS?
Menurut analis dari Bank of America Securities, Wamsi Mohan, harga iPhone 16 Pro yang saat ini dibanderol sekitar US$ 1.199 atau Rp 20,2 juta (kurs Rp16.810 per dolar AS) bisa melonjak hingga US$ 1.500 atau Rp 25,2 juta jika diproduksi di Amerika. Kenaikan ini disebabkan oleh tingginya biaya tenaga kerja di Negeri Paman Sam.
Mohan memaparkan bahwa biaya perakitan dan pengujian iPhone di AS dapat mencapai US$ 200 per unit, jauh lebih tinggi dibanding di Cina yang hanya sekitar US$ 40.
Sementara itu, analis Wedbush, Dan Ives, memprediksi skenario terburuk: jika Apple benar-benar memindahkan sebagian besar rantai pasokannya ke AS, maka harga iPhone buatan Amerika bisa mencapai US$ 3.500 atau sekitar Rp 58,8 juta. Biaya itu mencakup investasi hingga US$ 30 miliar selama tiga tahun untuk mengalihkan 10% produksi dari Cina ke Amerika.
Baca Juga: Barang Mewah Luxury Brand Ternyata Banyak Dibuat di Cina, Cina Beberkan Biaya Produksi
Mengapa Produksi iPhone di AS Sulit Terwujud?
Para pakar industri menilai bahwa produksi iPhone di Amerika Serikat bukan hal yang mudah dilakukan. Tantangan terbesar mencakup:
- Tingginya biaya tenaga kerja dan logistik
- Ketersediaan SDM terampil dalam jumlah besar
- Tarif impor atas komponen yang tetap harus didatangkan dari luar negeri
Jeff Fieldhack dari Counterpoint Research bahkan menyebut bahwa ide ini tidak realistis dalam waktu dekat, apalagi dengan dinamika kebijakan perdagangan yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Apple sendiri masih menggandeng Foxconn, produsen asal Taiwan yang memiliki fasilitas besar di Cina, untuk merakit lebih dari 80% produk mereka. Selain efisien secara biaya, pabrik-pabrik di Cina memiliki sistem yang sudah berjalan dengan skala masif, memungkinkan Apple memproduksi lebih dari 200 juta iPhone tiap tahun.
CEO Apple, Tim Cook, pernah menjelaskan bahwa alasan Apple bertahan di Cina bukan hanya soal murahnya tenaga kerja, melainkan karena ketersediaan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar di satu lokasi. Di sisi lain, Amerika kekurangan ribuan engineer yang dibutuhkan untuk mendukung proses produksi berskala besar.
Hal ini juga pernah disinggung oleh mendiang Steve Jobs kepada mantan Presiden Barack Obama, bahwa AS saat itu kekurangan setidaknya 30 ribu teknisi untuk mendukung 700 ribu pekerja pabrik iPhone.
Baca Juga: NVIDIA Rugi Rp89 Triliun Akibat Aturan Baru Ekspor Chip AS ke China
Perbandingan Upah di Cina dan AS
Salah satu faktor utama yang membuat iPhone tetap diproduksi di Cina adalah selisih upah yang signifikan. Di Cina, pekerja pabrik iPhone dibayar sekitar US$ 3,63 per jam, sementara upah minimum di California bisa mencapai US$ 16,5 per jam.
Ini membuat biaya produksi iPhone di AS jauh lebih tinggi, sehingga berdampak langsung pada harga jual ke konsumen.
Proyek Foxconn di AS Gagal Terwujud?
Pada 2017, Donald Trump sempat mengumumkan investasi US$ 10 miliar dari Foxconn untuk membangun pabrik di Wisconsin, yang disebut-sebut akan menciptakan 13.000 lapangan kerja. Namun, realisasi proyek tersebut jauh dari harapan. Hingga kini, hanya sekitar 1.454 pekerjaan yang benar-benar tercipta. Bahkan, selama pandemi, pabrik tersebut lebih banyak memproduksi masker daripada perangkat elektronik.
Apakah iPhone Buatan Amerika Mungkin Terwujud?
Dengan berbagai tantangan mulai dari biaya tenaga kerja, kekurangan tenaga ahli, hingga ketidakpastian kebijakan perdagangan, produksi iPhone sepenuhnya di Amerika Serikat dinilai sulit terwujud dalam waktu dekat. Harga iPhone bisa melonjak drastis, hingga menyentuh Rp 58 juta, jika produksi benar-benar dipindahkan ke AS.
Maka tak heran jika Apple tetap memilih Cina sebagai pusat produksinya efisien, terampil, dan sudah teruji dalam skala besar.
Penulis: Kemal Fahreza Jibran
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira