Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

NVIDIA Rugi Rp89 Triliun Akibat Aturan Baru Ekspor Chip AS ke China

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 16 April 2025 | 18:21 WIB
Chip Perusahaan NVIDIA
Chip Perusahaan NVIDIA

JP Radar Kediri – Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, diperkirakan mengalami kerugian hingga $5,5 miliar atau sekitar Rp89 triliun. Hal ini terjadi setelah pemerintah AS memperketat aturan ekspor chip ke China.

Nvidia merupakan produsen chip yang saat ini berada di garis depan dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Salah satu produknya yang paling laris di pasar China, yakni chip AI H20, kini tidak bisa lagi dijual dengan bebas. 

Pemerintah AS mewajibkan Nvidia memiliki lisensi khusus untuk mengekspor chip tersebut ke China dan Hong Kong.

Dalam pernyataan resminya, Nvidia menjelaskan bahwa mereka telah diberitahu oleh pemerintah AS pekan lalu mengenai aturan ini. Lisensi ekspor untuk chip H20 akan berlaku untuk waktu yang tidak ditentukan. 

Pemerintah mengatakan langkah ini diambil untuk mencegah chip digunakan dalam pembangunan superkomputer di China, yang dikhawatirkan akan memperkuat kemampuan AI negara tersebut.

Baca Juga: Agensi Kim Soo Hyun Resmi Ajukan Gugatan untuk Knetz dengan Tuduhan Cyberbullying

Setelah pengumuman tersebut, saham Nvidia langsung turun hampir 6% pada perdagangan di luar jam bursa. Perusahaan menyatakan kerugian yang mereka alami mencakup nilai inventaris chip H20, komitmen pembelian yang telah dibuat, dan cadangan lainnya.

Meski begitu, analis teknologi Marc Einstein dari Counterpoint Research menilai Nvidia masih mampu menanggung kerugian ini,  "Jumlahnya memang besar, tapi Nvidia bisa menanganinya. Ini kemungkinan bagian dari strategi negosiasi dalam perang dagang antara AS dan China," ujarnya.

Marc Einstein juga mengatakan bahwa situasi ini dapat memicu perubahan atau pengecualian dalam kebijakan tarif karena dampaknya tidak hanya mengenai Nvidia, melainkan seluruh industri semikonduktor AS.

Saat ini, chip semikonduktor menjadi pusat perebutan supremasi teknologi antara Amerika Serikat dan China. Presiden Donald Trump pun mendorong percepatan penguasaan proses produksi chip dalam negeri agar AS tidak lagi bergantung pada negara lain.

Nvidia sendiri sudah lama menjadi pemain penting dalam teknologi AI. Awalnya dikenal sebagai produsen chip grafis untuk game, Nvidia mulai mengembangkan fitur pembelajaran mesin pada chip mereka bahkan sebelum tren AI berkembang. 

Baca Juga: Korut Diduga Buat Kapal Perang Tebesar dan Tercanggih

Kini, produk mereka digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari data center hingga chatbot canggih.

Rui Ma, pendiri podcast teknologi Tech Buzz China, menilai bahwa jika pembatasan ini terus berlangsung, maka rantai pasok semikonduktor antara AS dan China akan benar-benar terputus. “Kalau begini terus, tidak ada gunanya perusahaan China bergantung pada chip AS, apalagi saat ini di China juga sudah ada kelebihan kapasitas pusat data,” ujarnya.

Sebelumnya, Nvidia juga sempat terpukul ketika muncul laporan bahwa aplikasi AI buatan China bernama DeepSeek berhasil dikembangkan dengan biaya jauh lebih murah dibandingkan chatbot lainnya. Hal ini sempat mengejutkan kalangan industri di AS karena dianggap sebagai pencapaian besar dari pesaingnya.


Penulis : Asyfa Maulidina

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Perang Dagang Amerika China #Berita internasional #berita hari ini #Perusahaan NVIDIA mengalami kerugian #Perusahaan NVIDIA terancam