Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Trump Ancam Tambah Tarif Impor Cina Hingga 50 Persen, Pasar Global Gonjang-Ganjing

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 8 April 2025 | 21:10 WIB
Donald Trump
Donald Trump

JP Radar Kediri - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terhadap China terkait perang dagang yang memanas. Dalam unggahannya di platform Truth Sosial pada Senin, 7 April 2025 waktu setempat, Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor terhadap barang asal China sebesar 50 persen jika Negeri Tirai Bambu itu tidak membatalkan kebijakan balasan tarifnya.

Trump menegaskan bahwa negara mana pun yang memberlakukan tarif balasan terhadap kebijakan Amerika Serikat akan menerima tarif baru yang lebih tinggi. “Jika Cina tidak mencabut tambahan tarif sebesar 34 persen atas pelanggaran perdagangan jangka panjang mereka hingga besok, 8 April, maka mulai 9 April AS akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 50 persen,” tulis Trump, dikutip dari CBS News dan USA Today.

Sebelumnya, pada 2 April 2025, Trump mengumumkan penerapan tarif impor sebesar 10 persen terhadap seluruh produk dari negara manapun yang masuk ke AS. Kebijakan ini mulai berlaku 5 April 2025. Selain itu, AS juga mengenakan reciprocal tariff terhadap negara-negara yang mencatat surplus perdagangan terhadap Amerika, termasuk Indonesia dan Cina.

Dalam kebijakan resiprokal tersebut, Cina dikenakan tarif sebesar 34 persen, sedangkan Indonesia sebesar 32 persen. Sementara Indonesia memilih jalur diplomasi dan negosiasi, pemerintah Cina langsung menanggapi dengan kebijakan balasan yang sama yaitu menerapkan tarif 34 persen atas produk AS mulai 5 April.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menjelaskan bahwa respons Cina memicu kekhawatiran pasar global. Dalam waktu dua hari setelah pengumuman tarif balasan, kapitalisasi pasar saham AS menyusut lebih dari US$ 5 triliun. “Investor global menunjukkan kepanikan, terlihat dari arus keluar dana besar-besaran,” katanya.

Bursa saham Amerika mengalami tekanan berat sejak Jumat, 4 April 2025, dengan indeks seperti S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan tajam. Ketegangan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia ini memicu kekhawatiran meluas di pasar keuangan global.

Dampaknya juga dirasakan di pasar keuangan Indonesia. Syafruddin memperingatkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi tertekan, begitu juga dengan nilai tukar rupiah yang bisa melemah akibat aliran modal asing yang lari ke aset-aset aman seperti dolar AS dan obligasi negara-negara maju.

“Ini bukan hanya soal kondisi domestik Indonesia, tapi juga reaksi global terhadap meningkatnya risiko. Karena itu, penting bagi Indonesia untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter, serta menunjukkan stabilitas politik agar tetap menarik di mata investor internasional,” ujarnya.



Penulis: Kemal Fahreza Jibran

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#donald trump #china #USA