KEDIRI, JP Radar Kediri - Bertugas di satuan baru tentu menjadi tantangan tersendiri bagi prajurit Yonif Teritorial Pembangunan (TP) 544 Ksatria Joyoboyo. Terlebih penempatannya yang berada jauh dari pusat kota. Berada di permukiman penduduk yang menuntutnya segera beradaptasi.
“Tergabung menjadi prajurit awal tahun 2026. Penempatan pertama di Yonif TP ini,” ujar Serda Ardhimas Bagas Ramadhan.
Pria yang bertugas di kompi senapan B itu menyebut jika penugasan di lokasi sekarang ini berbeda dengan yang ada di bayangannya. Dia berekspetasi ketika bertugas di tengah hutan belantara akan sejuk dan dingin. Namun ternyata yang ada sebaliknya.
“Awal datang ke sini wah ini medannya beda sama yang di angan-angan dulu. Saya kira dingin dan sejuk. Ternyata sini termasuk panas kalau siang dan berdebu,” imbuhnya.
Baca Juga: Pangdam Cek Markas Yonif TP di Kandangan, Diisi 600 Prajurit, Back Up Program Ini!
Meski demikian, Dhimas menyebut jika sejauh ini tidak begitu kaget. Sebab di pendidikan militer sebelumnya diajarkan untuk terbiasa di manapun lokasi penempatan dan medannya. Termasuk ketika harus menghadapi permasalahan yang mungkin di luar kendalinya.
Apapun kondisinya mereka dituntut untuk bisa survive. Seperti halnya ketika lokasinya bertugas termasuk daerah yang masih kesusahan untuk mendapatkan air. Mau tidak mau dia harus bisa beradaptasi dengan bijak menggunakan air.
“Kami harus bolak-balik ambil di sumber dengan jarak sekitar 15 kilometer. Untuk minum, mandi, dan lain-lain,” terang pria asal Mojokerto itu.
Termasuk urusan makanan juga dituntut untuk mengelola secara mandiri. Masak sendiri dengan menu yang berbeda-beda setiap harinya. Dengan sistem bergiliran yang masing- masing kompi harus mengirimkan anggota yang memang bisa memasak.
Baca Juga: TNI Kuat Bersama Rakyat, Ini Pesan Dandim 0809 Kediri kepada Prajurit
“Yang paling berkesan dari kami itu kebersamaan. Karena kami juga sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendiri. Itu kalau bersama-sama itu rasanya bahagia sekali. Apalagi sama teman- teman sependidikan, satu ompreng, susah seneng bareng Itu suatu hal yang istimewa,” kenangnya.
Ditanya terkait kegiatan sehari-hari, pria berusia 20 tahun itu menyebut jika dari bangun hingga tidur sudah diatur jadwalnya. Misalnya bangun pagi, langsung kegiatan olahraga pagi. Setelah olahraga pagi dilanjutkan kegiatan bersih diri, makan pagi, dan apel.
Selanjutnya, melakukan kegiatan sesuai yang ada di jadwal. Mulai dari bersih tenda, perbaikan lagi tenda, membuat garasi, kamar mandi dan lain-lain. “Nanti sore kami ada olahraga lagi. Namanya oraum atau olahraga umum. Seperti bermain voli, sepak bola, lari dan lain-lain. Sementara jadwalnya masih itu,” paparnya.
Ditanya latihan sesuai penugasan kompinya, Dhimas menyebut ada jadwal tersendiri. Contohnya minggu ini latihan PBB bersenjata. Kemudian minggu selanjutnya ganti materi lagi. “Rencananya nanti bakal ada kayak pelatihan pertempuran. Kan medan lokasinya juga sudah sesuai nih. Sesuai medan tentara banget,” tuturnya dengan melempar senyum.
Hal serupa juga disampaikan oleh prajurit dua (Prada) Hendi Musanto. Dia menyebut jika cuaca menjadi salah satu hal yang membuatnya harus beradaptasi. Jika siang panas, tapi malam sangat dingin. Sehingga tubuhnya harus beradaptasi lagi di lokasi yang baru.
“Sebenarnya bertugas di medan panas sudah biasa. Cuma di sini termasuk berdebu juga jadi tubuh harus beradaptasi lagi,” terangnya.
Pria asal Sumatera itu menyebut tak hanya persoalan cuaca yang membuatnya harus beradaptasi, tetapi juga bahasa. Mengingat dia berasal dari luar Pulau Jawa dan lokasinya bertugas saat ini berada di area perkampungan yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Jawa.
Baca Juga: Istana Ungkap Penyebab Prajurit TNI Jadi Sopir Truk Tanki Pertamina, Kekeh Bukan Kelangkaan BBM
Tak jarang ketika berkomunikasi dia menyampaikan terlebih dahulu ke lawan bicaranya jika tidak bisa berbahasa Jawa. Terkadang juga mengajak temannya yang asli orang Jawa untuk membantu komunikasi.
“Sebenarnya paham sedikit-sedikit bahasa Jawa. Cuma saya belum bisa mengucapkannya. Jadi kalau komunikasi ya saya langsung bilang ‘maaf saya tidak bisa bahasa Jawa bu’,” paparnya memberi contoh.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kediri, lokasi Yonif TP ini berada di hutan yang relatif gersang. Sehingga cuacanya sangat panas dan berdebu. Karena cukup sulitnya akses air, mereka pun saat ini masih melakukan pengeboran sumur.
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Resmikan 6 Kodam Baru di HUT ke-81 TNI, Ini Daftarnya
“Sembari menunggu pengeboran air selesai, setiap harinya kami mengambil air dari Sumber Corah dengan jarak tempuh 15 km. Pengambilannya tiga kali dalam satu hari. Yaitu pagi, sore, malam,” terang Pasi Intel Yonif TP 544 Ksatria Joyoboyo Letnan Dua Infantri Hendy Kurniawan.
Tak jarang untuk mengambil air tersebut, selain menggunakan kendaraan tangki air juga membawa kendaraan pemadam kebakaran. Mengingat jumlah air yang dibutuhkan cukup banyak.
“Yang jelas satu mobil pemadam kebakaran harus ada satu yang siaga di sini (Yonif TP 544 Ksatria Joyoboyo. Mengingat jika terjadi kebakaran lokasi pemadam juga cukup jauh,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri