Psikologis Korban Pencabulan Pesantren Kediri Berangsur Membaik, Ini Kondisi Terbarunya!

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 06:07 WIB
Ilustrasi pencabulan ayah tiri kepada anak tiri dan mertua. (Afrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi pencabulan ayah tiri kepada anak tiri dan mertua. (Afrizal Syaiful M/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri – Kondisi psikologis dua korban pencabulan di Kecamatan Pesantren berangsur membaik. Itu adalah IEP, 12, anak tiri, serta SRT, 66, mertua.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala UPT PPA DP3AP2KB Kota Kediri Suwarsi. Dia menyebut jika kondisi psikologis kedua korban berangsur membaik dibandingkan saat pertama kali ditemukan.

Ya, kalau waktu itu (pertama bertemu, Red) seperti ketakutan ya. Jadi takut sama ibunya karena membela (ayah tiri, Red),” ujar perempuan yang akrab disapa Warsi itu.

Baca Juga: Ayah di Kediri Tega Cabuli Anak Tiri dan Mertua, Ini Modus Tersangka!

Menurutnya, ketakutan tersebut terlihat jelas dari raut muka korban yang masih di bawah umur. Pertama ditemukan dia pendiam dan sedikit bicara. Itu karena terlalu banyak memendam apa yang dirasakan. Keberaniannya bercerita itu muncul ketika dia merasa sang kakak berpihak kepadanya. Sehingga sedikit demi sedikit apa yang dialami bisa diutarakan.

“Itu karena dia (korban, Red) cerita kepada kakak kandungnya. Awalnya kakak juga mendapat tekanan dari ibu tapi tetap membantu menyuarakan kepada satgas PPA kelurahan,” imbuhnya.

Informasi yang dihimpun wartawan Jawa Pos Radar Kediri, aksi cabul yang dialami oleh IEP berlangsung selama dua tahun terakhir. Korban yang kini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar (SD) tersebut menyembunyikan kelakuan bejat sang ayah tiri sejak duduk di kelas 4 SD.

Baca Juga: Ayah yang Cabuli Anak Tirinya di Kediri Divonis 8,5 Tahun Penjara

Terkait modus, SLN melancarkan aksi cabul ke anak tirinya itu dengan meraba area sensitifnya. Seperti payudara dan kemaluannya. Sementara kepada mertua dia alibi meminta untuk dipijat kemudian lanjut dicium.

“Jadi waktu ditanya itu awal-awal ya menangis. Maksudnya ketika ditanya, dia mengingat dan membicarakan pengalamannya selama 2 tahun itu hanya nangis, tapi dipendam sendiri,” beber perempuan yang sehari-hari memakai kacamata itu.

Kini, kondisi psikologisnya semakin membaik. Itu setelah dievakuasi ke rumah aman dan terpisah dari ibunya yang memberi tekanan. Guna memastikan hak pendidikannya tetap terpenuhi, petugas Satgas PPA rutin mengantar jemput ke sekolah.

Baca Juga: Setubuhi sejak SD, Ayah di Kota Kediri Hamili Anak Tirinya

Tak lupa pihaknya juga memberikan pendampingan psikologis secara intensif hingga dua Minggu mendatang. Sembari menunggu proses hukum yang masih terus berlangsung di kepolisian.

“Pihak UPT PPA bersama pemerintah kota masih akan terus memantau perkembangan kondisi psikologis korban dan mengoordinasikan langkah-langkah pemulihan lanjutan. Termasuk pendampingan hukum yang tengah berjalan di Polres,” pungkasnya.

Seperti yang diberitakan, SLN, 50, pria asal salah satu kelurahan di Kecamatan Pesantren sungguh bejat. Dia tega mencabuli IEP, 12, anak tirinya, serta SRT, 66, mertuanya. Berbeda dengan kasus pencabulan korban anak-anak lain yang selalu diiming-imingi uang. SLN tak memberi imbalan apapun pada korban. Sebaliknya, pria yang disebut-sebut menderita penyakit stroke itu berdalih melakukan perbuatan tersebut untuk menyalurkan kasih sayang.

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
anak tiri mertua kecamatan pesantren trauma kota kediri