Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus HANI Angle (2) : Jesicha : Yang Disasar Generasi Muda

Hilda Nurmala Risani • Senin, 29 Juni 2026 | 06:20 WIB
Ilustrasi HANI 2026.
Ilustrasi HANI 2026.

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Persoalan penyalahgunaan  narkotika dan obat-obatan terlarang perlu menjadi atensi bersama. Sebab, kasus ini tak bisa dipandang sebelah mata. Sudah masuk extraordinary crime.

“Hal yang luar biasa, yang disasar itu adalah generasi muda,” tandas penggiat anti-narkoba yang juga kepala Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Eklesia Kediri Jesicha Yenny Susanty.

Jesicha menyebut perlu ada persepsi yang sama. Antara pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat harus sama dalam memandang permasalaha narkotika.

Baca Juga: Peredaran Narkoba di Kota Kediri Masih Tinggi, Ini Alasannya!

Selain itu, kesadaran melakukan rehabilitasi masih sangat rendah. Bahkan berada di tataran bawah.

Menurutnya,  bagi pelaku penyalahguna narkotika yang ingin menjalani rehabilitasi ada dua jenis mekanisme. Pertama, voluntary atau sukarela. Artinya pecandu melapor atas inisiatif sendiri untuk mendapatkan perawatan.

Kedua, compulsory atau rehabilitasi secara paksa karena wajib. Ini biasanya dilakukan setelah penetapan atau putusan hukum bagi penyalahguna yang telah tertangkap tangan atau diputus oleh hakim.

Baca Juga: Polisi Bekuk Sembilan Kurir Narkoba, Sita 34,9 Gram Sabu dan Ribuan Pil Dobel L, Ini Yang Masih Diburu!

“Mayoritas yang menjalani rehabilitasi ya mereka yang sudah ketangkap oleh polisi,” imbuh Jesicha.

Terkait hasil rehabilitasi ini, juga terbagi menjadi empat macam.  Yang pertama, pulih dan produktif. Ini adalah cita-cita ideal petugas rehab. Pecandu bisa pulih menjalani aktivitas sehari- hari dengan produktif.

Kedua, pulih tetapi tidak produktif. Ini yang sangat berbahaya. Apabila imannya tidak kuat maka akan kembali mengonsumsi. Pelaku ini biasanya juga rawan menjadi kurir atau pengedar.

Baca Juga: Kapolres Kediri Jadi yang Pertama Tes Urine, Tindak Lanjut Instruksi Kapolri Zero Narkoba di Kepolisian  

Mengapa demikian? Karena dia pernah pakai, otomatis dia pernah tahu tempat di mana belinya. Nah, kalau misalkan dia awalnya pulih tapi dia tidak punya uang, tidak produktif, kalau ada yang nawarin pasti mau terlibat lagi.  

Ketiga, tidak pulih tapi produktif. Ini biasanya ditemukan pada artis atau pekerja dengan jam kerja di luar jam normal. Dia tidak pulih karena mungkin tuntutan pekerjaan. Agar tidak capek, tidak ngantuk ngantuk, dan punya rasa percaya diri tinggi.

Keempat, yang mengenaskan, tidak pulih dan tidak produktif. Ini yang perlu ditanyakan bagaimana proses rehabilitasinya. Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang menjalani rehab dengan keterpaksaan. Daripada harus menjalani proses hukum, lebih baik mengikuti program rehabilitasi. 

Baca Juga: Breaking News! Satresnarkoba Bekuk Satu Tersangka Kasus Penyelundupan Narkoba Lapas Kediri

Selama ini pecandu yang mengikuti rehabilitasi di bawah naungannya memiliki latar belakang beragam. Ada yang karena diajak oleh temannya hingga persoalan ekonomi.

“Intinya ada masalah sosial sehingga pelariannya ke narkoba. Karena yang menjalani rehabilitasi mayoruitas adalah mereka yang pengguna aktif. Kemudian hanya coba-coba dan residivis,” bebernya. 

 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#HANI 2026 #Tren Narkoba #generasi muda #rehabilitasi #kota kediri