KABUPATEN, JP Radar Kediri – Masalah ekonomi menjadi penyebab utama perceraian di Kabupaten Kediri. Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Kediri mencatat sebanyak 1.207 perkara perceraian selama periode Januari hingga Mei 2026.
Mayoritas perkara yang masuk ke pengadilan dipicu persoalan ekonomi dalam rumah tangga yang berujung pada konflik berkepanjangan antara suami dan istri.
Hakim sekaligus Humas PA Kabupaten Kediri Haitami mengatakan faktor ekonomi masih mendominasi perkara perceraian yang ditangani lembaganya.
Namun, persoalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh rendahnya pendapatan keluarga. Melainkan juga kurangnya tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Faktor tertinggi memang masalah ekonomi. Tanggung jawab dari suami kepada istri itu kurang, sehingga kebutuhan keluarga tidak terpenuhi dengan baik,” ujarnya.
Menurut Haitami, kondisi ekonomi yang bermasalah sering kali menjadi pemicu munculnya persoalan lain dalam rumah tangga. Mulai dari pertengkaran, hilangnya keharmonisan keluarga, hingga konflik yang akhirnya berujung pada gugatan perceraian.
Meski demikian, ia menilai persoalan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari komitmen pasangan dalam mempertahankan rumah tangga.
Sebab, seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarganya akan berupaya memenuhi kebutuhan keluarga. Termasuk menghindari tindakan yang dapat merugikan rumah tangga.
“Kalau seseorang punya tanggung jawab terhadap keluarganya, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keluarganya. Yang paling penting sebenarnya adalah komitmen terhadap keberlangsungan rumah tangga,” jelasnya.
Dia mengimbau pasangan suami istri agar selalu menjaga komunikasi dan komitmen dalam membangun rumah tangga.
Ketika menghadapi persoalan, pasangan diharapkan menyelesaikannya dengan kepala dingin dan melibatkan keluarga sebagai penengah sebelum memilih jalur perceraian.
“Yang paling penting adalah komitmen bersama antara suami dan istri. Jangan buru-buru datang ke pengadilan ketika ada masalah. Libatkan keluarga untuk membantu menyelesaikan persoalan, bukan malah memperkeruh keadaan,” pungkas Haitami. (c2/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita