Pesan tersebut disampaikan Karobinkar SSDM Polri Brigjen Pol Langgeng Purnomo saat menghadiri kegiatan Ruwat Agung Soekarno di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (14/6).
Kegiatan yang digelar pengelola Situs Ndalem Pojok bersama Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG) itu menjadi momentum memperingati perubahan nama Sang Proklamator dari Koesno menjadi Soekarno.
Acara turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Kediri, kapolres jajaran eks Polwil Kediri, tokoh lintas agama, serta budayawan.
Dalam pemaparannya, Brigjen Langgeng yang juga Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG menekankan bahwa konsep Tri Sakti Bung Karno masih relevan sebagai pedoman menghadapi dinamika geopolitik global saat ini.
"Saat ini kita berada di tengah tarik menarik geopolitik internasional, di mana setiap negara mengutamakan kepentingan nasionalnya, diantaranya agar bebas dari pengaruh asing. Untuk mewujudkan kedaulatan politik agar bebas dari pengaruh asing, pekerjaan rumah komponen bangsa Indonesia saat ini harus mau dan mampu gotong royong nasional dalam mewujudkan berdikari di bidang ekonomi terlebih dahulu," urai Brigjen Langgeng.
Baca Juga: Tokoh Lintas Agama Berkumpul di Ndalem Pojok, Ini yang Dilakukan
Menurutnya, kedaulatan politik hanya dapat terwujud apabila bangsa Indonesia mampu berdikari secara ekonomi melalui semangat gotong royong nasional.
Ia menjelaskan, upaya tersebut kini diwujudkan melalui berbagai program dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, mulai swasembada pangan, energi, air, teknologi hingga hilirisasi industri.
Namun, keberhasilan agenda tersebut memerlukan pondasi yang kuat berupa karakter bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Brigjen Langgeng mengingatkan bahwa dampak negatif globalisasi dan budaya kapitalisme berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial, seperti keserakahan, iri hati, hingga lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat berdampak pada moral masyarakat, penegakan hukum, budaya, bahkan keamanan nasional.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memperkuat jati diri Indonesia melalui nilai gotong royong, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan pesan dalam lagu Indonesia Raya yang mengandung makna membangun jiwa sekaligus membangun raga bangsa Indonesia.
Baca Juga: Melihat Jamasan Benda Pusaka di Situs Persada Ndalem Pojok, Wates
"Kalau jati diri bangsa kuat, budaya kita berkepribadian, ekonomi berdikari dan politik berdaulat, maka Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang kuat sekaligus berperan sebagai penjaga perdamaian dunia," tegas Brigjen Langgeng.
Selain penyampaian pesan kebangsaan, kegiatan juga diisi doa lintas agama, kirab jati diri bangsa, panglukatan patung Soekarno, peresmian monumen perubahan nama Koesno menjadi Soekarno, penandatanganan prasasti, hingga pementasan teatrikal bertema perjalanan hidup Bung Karno.
Sementara itu, Kushartono, Ketua Panitia Pelaksana, menjelaskan bahwa Ndalem Pojok memegang peran vital dalam sejarah Bapak Bangsa. Di rumah tua inilah nama Soekarno dianugerahkan oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo.
"Melalui Ruwat Agung ini, Kami ingin memulihkan kembali karakter dan mentalitas jati diri bangsa yang mulai memudar. Kami berharap dapat membangkitkan kembali jiwa Soekarno di dalam sanubari generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045 dan mengantarkan bangsa ini sebagai Imam Perdamaian Dunia," ujar Kushartono.
Editor : Andhika Attar Anindita