KEDIRI, JP Radar Kediri-Korban pencabulan yang dilakukan oleh Hj, 63, tokoh agama di salah satu desa di Kecamatan Ngadiluwih bertambah lagi.
Jika sebelumnya hanya 10 anak yang melapor, kemarin ada tambahan tiga korban baru.
Tiga anak yang menjadi korban pensiunan guru itu berani buka suara setelah pemerintah desa setempat dan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri melakukan pendalaman.
Menggandeng tenaga medis dan psikolog, tim Pemkab Kediri melakukan tracing atau pelacakan korban lainnya.
Hingga kemarin, proses pelacakan terus dilakukan untuk memastikan korban-korban lainnya berani berbicara. Di saat yang sama, tim psikolog melakukan pendampingan psikologi terhadap anak-anak.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP2KBP3A Kabupaten Kediri Intan Candra Dewi mengatakan, saat ini pihaknya fokus melakukan pemulihan kondisi psikologis korban.
Menurutnya, anak-anak masih perlu asesmen lebih lanjut bersama psikolog dan tenaga kesehatan.
“Jadi saat ini kami fokus dulu mendampingi anak-anak untuk pemulihan psikologisnya. Kami juga bekerja sama dengan teman-teman dari puskesmas dan psikolog klinis untuk asesmen lebih lanjut,” ujarnya.
Pendampingan, tutur Intan, dilakukan secara tertutup karena menyangkut kondisi psikologis anak.
Pihaknya juga belum dapat menyampaikan detail kondisi korban lantaran masih tahap awal pendampingan.
Selebihnya, DP2KBP3A juga telah membentuk tim psikolog untuk membantu proses pemulihan trauma para korban.
Sementara itu, Sekretaris DP2KBP3A Kabupaten Kediri Nono Soekardi menambahkan, dari hasil pendalaman sementara, jumlah korban yang awalnya sekitar sepuluh anak kini berkembang menjadi 13 anak.
“Pendampingan (psikolog) ini supaya anak-anak tidak trauma dan bisa pulih kepercayaannya lagi. Anak-anak kan takut. Dan pendampingannya tidak sekali dua kali, tapi berlanjut sampai traumatiknya hilang,” terang Nono.
Terpisah, Arik, salah satu perangkat desa di tempat kejadian perkara (TKP) juga membenarkan tentang penambahan jumlah korban.
Pemerintah desa kini menyerahkan sepenuhnya proses pendampingan kepada DP2KBP3A dan tim psikolog untuk mengetahui kondisi kejiwaan para korban.
Baca Juga: Diduga Cabuli Santrinya, Guru Ngaji di Ngadiluwih Kediri Dibekuk Polisi
“Awalnya sekitar 10, tapi ternyata berkembang ada 13. Tracing juga masih terus kami lakukan lebih mendalam lagi,” jelasnya.
Sementara itu, Murjito, Ketua RT setempat mengatakan, anak-anak korban pencabulan mayoritas masih trauma. Ada yang takut ke masjid. Ada pula yang justru takut saat berada di rumah.
“Yang takut di rumah itu yang rumahnya dekat dengan pelaku. Ibunya kan ke luar negeri, ayahnya itu dagang plafon jadi jarang di rumah. Kalau orang tuanya nggak ada, nggak berani di rumah,” paparnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, saat proses pendampingan DP2KBP3A kemarin, orang tua (ortu) korban juga dihadirkan.
Ra, 44, salah satu ortu korban mengaku baru tahu anaknya jadi korban saat pihak RT mengumpulkan korban pencabulan.
“Saya baru tahu (anak jadi korban pencabulan) setelah didatangi RT dan disuruh berkumpul,” ungkap Ra.
Sang anak yang berusia 15 tahun sedang istirahat mengaji di pelataran rumah Hj. Kebetulan di sana ada ayunan dan berjualan makanan ringan. Hj lantas memanggil sang anak dan dijadikan bahan onani.
“Katanya itu duduk di perlihatkan alat kelaminnya. Tahu itu, saya pun terkejut juga sebagai orang tua,” jelas Ra sembari menyebut Hj melakukan hal tidak terpuji itu sebanyak tiga kali.
Baca Juga: Dua Korban Pencabulan di Pesantren Jalani Terminasi Psikologi, Simak Alasan dan Kondisi Terkininya
Meski mendapat perlakuan tak senonoh dari Hj, anaknya tidak berani mengaku karena takut. Karenanya, Ra berharap Hj mendapat hukuman yang setimpal.
“Kalau memang salah, ya harus dihukum. Nanti biar nggak kemana-mana, kan (hukuman) sudah lama itu,” tandasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita