KEDIRI, JP Radar Kediri-Kekerasan seksual yang mengancam anak-anak harus tetap diwaspadai oleh para orang tua di Kota Kediri. Pasalnya, pelaku yang beraksi di tempat-tempat sepi itu hingga kemarin belum tertangkap.
Lt, ibu dari korban kekerasan mengatakan, pelaku sengaja beraksi di tempat yang sepi. Serta jam yang minim aktivitas warga.
“Pelaku menunggu korban lengah dengan pura-pura bertanya,” kata ibu dari Titi (bukan nama sebenarnya), yang menjadi korban kekerasan.
Pelaku, lanjut Lt, juga sudah mengantisipasi dengan menyembunyikan identitasnya. Salah satunya, saat menunjukkan kelamin di depan anak-anak, pria bertubuh gendut itu menggunakan helm dan masker. Sehingga korban tidak dapat melihat wajahnya secara langsung.
Namun, saat melakukan begal payudara atau menyentuh kemaluan anak-anak, dia berani melepas maskernya. “Memang beda-beda,” lanjut Lt.
Seperti diberitakan, Titi menjadi korban begal payudara pada Selasa (10/2) lalu. Siswa salah satu SD di Kecamatan Pesantren itu didatangi oleh pria tanpa identitas yang pura-pura menanyakan alamat.
Setelah diberi petunjuk, pria yang mengendarai sepeda motor matic itu langsung mendekati Titi dan meremas payudaranya. Tak ayal kejadian tersebut membuat Titi syok dan menangis keras saat tiba di rumahnya.
“Trauma pasti. Dia takut kemana-mana sendiri. Saya pun jadi tidak tega melihat anak nangis tersedu-sedu,” tutur Lt.
Baca Juga: Waspada! Pelaku Begal Payudara di Kota Kediri Masih Berkeliaran, Polisi Buru Pelaku
Kondisi trauma yang dialami Titi dibenarkan oleh Kepala UPT PPA Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri Suwarsi.
Menurutnya, korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu memerlukan pendampingan ekstra.
“Sudah kami lakukan pendampingan. Anaknya ketakutan dan cemas. Sempat tidak mau sekolah karena takut bertemu begalnya lagi,” ujar perempuan yang akrab disapa Warsi itu.
Saking takutnya, aksi begal payudara yang dialami Titi hingga terbawa ke dalam mimpi. Tak sekadar aksi begal saja, Titi yang ketakutan mengaku bermimpi akan dibunuh oleh pelaku yang memakai jaket warna biru tua itu.
Baca Juga: Korban Rudapaksa Asal Mojoroto Kota Kediri Dapatkan Pendampingan Psikologis
Dengan kondisi tersebut Unit PPA sudah meminta orang tua untuk melakukan pendampingan dan pengawasan ekstra. Termasuk mengantar dan menjemput sekolah anaknya.
Pendampingan orang tua, diyakini akan membuat Titi merasa aman. “Kami sarankan orang tua untuk mengantar jemput anak sampai kondisi psikologis korban (Titi, Red) kembali normal,” paparnya.
Unit PPA, terang Warsi, akan tetap melakukan pendampingan secara berkala. Mereka akan tetap bersama Titi hingga kondisi psikologisnya bisa benar-benar pulih.
Editor : Andhika Attar Anindita