KEDIRI, JP Radar Kediri- Kondisi psikologis korban pencabulan yaitu Mawar dan Melati, asal Kecamatan Pesantren sudah membaik.
Itu dibuktikan dari perilaku korban yang sudah terbuka untuk bercerita dan mau mengutarakan apa yang sedang diinginkan.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Kepala UPT PPA DP3AP2KB Kota Kediri Suwarsi. Dia menerangkan jika kondisi korban sudah lebih bagus.
“Anaknya sudah bisa bercerita semuanya. Seperti sudah tidak ada beban. Beda dengan waktu awal-awal dulu,” ujar Suwarsi.
Dia menyadari jika kondisi awal korban memang memprihatinkan. Terlebih saat ada pemberitaan di TikTok yang menyebutkan alamat tempat tinggalnya. “Bahkan korban sampai sakit melihat pemberitaan itu,” imbuhnya.
Namun demikian, psikolog terus berupaya memberi pendampingan kepada korban. Seperti memberi penjelasan agar tetap tenang dan bertingkah laku seperti biasanya.
Juga tidak perlu takut atau minder sebab dipastikan latar belakang yang dialami selama ini aman dan hanya diketahui oleh orang tua serta petugas saja.
“Awalnya memang korban sulit untuk bercerita. Mereka takut dan tidak percaya. Sampai beberapa kali pendekatan barulah mereka mau bercerita,” ucap Suwarsi.
Kini, dia memastikan jika kondisi korban sudah jauh lebih bagus. Psikolognya sudah stabil dan tidak mengalami trauma. Termasuk kondisi korban yang sudah mengalami pencabulan hingga persetubuhan.
“Terhitung kami sudah memberi pendampingan selama empat kali. Mulai dari asesmen awal hingga trauma healing,” akunya sembari menyebut jika korban juga meminta untuk diantarkan main ke mall.
Meski kondisinya dinyatakan sudah baik, pihaknya akan terus melakukan pendampingan. UPT PPA akan terus melihat perkembangan kedua anak korban tersebut.
“Kami akan melakukan pendampingan hingga dinyatakan selesai,” ungkap Suwarsi kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Ditanya apakah dari keluarga broken home, Suwarsi menuturkan jika tidak ada. Keluarganya harmonis dan latar belakang pendidikan agamanya bagus.
Hanya saja intimidasi pelaku membuat korban yang masih berstatus anak-anak menjadi takut dan menurut saja.
“Jadwal kunjungan kami menyesuaikan dengan korban. Kalau dilakukan terjadwal satu minggu dua kali justru kasihan anaknya menjadi kepikiran. Jadi fleksibel saja untuk waktunya,” pungkasnya.
Seperti diberitakan, kasus pencabulan kembali terjadi di wilayah Kota Kediri. Kali ini aksi tidak senonoh itu menimpa Mawar, 10; dan Melati, 11.
Mereka dicabuli oleh FAAL, 18, siswa SMA yang sekaligus merupakan guru ngaji dua bocah tersebut.
Aksi bejat FAAL itu terbongkar saat Melati, 11, mengadu kepada ibunya bahwa dia punya utang kepada pelaku.
Untuk mengurangi utangnya, dia diajak untuk bersetubuh secara verbal. Beruntung, hal tersebut diketahui oleh sang ibu melalui percakapan WhatsApp.
Nahasnya, keponakannya, sebut saja Mawar, justru sudah dicabuli sekaligus disetubuhi. Menjadi korban pencabulan selama dua tahun terakhir membuat kondisi psikologis Mawar sangat memprihatinkan. (la/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita