Iming-iming kaya dengan cara instan dan cepat memang menggiurkan. Termasuk bagi peserta arisan yang dikelola oleh NST ini. Sayang, justru kerugian materi dan emosi yang didapat.
Dunia maya heboh. Kasus arisan bodong menyeruak. Korbannya pun bermunculan. Sementara, pengelola arisan justru melarikan diri. Tak ingin gigit jari, peserta yang dirugikan pun lapor polisi.
Yang bikin geleng kepala, pengepul arisan memang ada di Kota Kediri. Namun, pesertanya tersebar hingga kabupaten hingga luar Kediri. Bahkan, ada yang domisilinya di luar negeri.
Baca Juga: Korban Arisan Bodong di Kediri Somasi Bandar, beri Waktu 21 Hari sebelum Polda Jatim Bergerak
Mengapa para korban ini demikian mudah tergiur dan akhirnya tertipu? Menabung hingga hanya iseng adalah alasannya.
“Saya ikut karena punya impian untuk membeli sepeda motor Honda PCX. Kalau dengan uang yang saya miliki sekarang belum cukup. Makanya ikut arisan biar uangnya bertambah dan bisa segera membelinya,” aku RTA, seorang korban.
Yang bikin RTA kian sedih, pihak dealer sering menghubungi. Menanyakan tindak lanjut transaksi yang dia rencanakan.
Perempuan 56 tahun itu menceritakan detail impiannya. Tak hanya ingin membelikan sepeda motor untuk anak, juga ingin membeli sapi untuk korban Idul Adha.
Dia tak pernah ada firasat menjadi korban penipuan. Sebab selama ini uang yang dikumpulkannya itu murni hasil kerja kerasnya berjualan di terminal.
Baca Juga: Korban Arisan Bodong Kumpulkan Surat Kuasa, Berupaya Menyerahkan ke Polda Jatim Jumat Lusa
“Uang hasil jualan saya tabung di kaleng Khong Guan (kaleng biskuit, Red). Total ada sepuluh toples. Nominalnya sekitar Rp 10 juta,” ucapnya dengan nada bergetar.
Di usianya yang sudah beranjak senja tentu tak ada keinginan lagi selain memenuhi permintaan sang buah hati. Tak heran dia pun tertarik ikut arisan agar uangnya bisa bertambah dalam waktu cepat.
Bahkan tak jarang dia mengajak rekannya untuk patungan demi membeli arisan yang dijual oleh pelaku. Tujuannya ketika uang sudah banyak dan cair, keuntungannya bisa dibagi dua. Serta bisa segera mewujudkan impiannya.
“Maksud saya ikut arisan buat nanti celengan (tabungan, Red) Idul Fitri. Eh, ternyata uang yang saya kumpulkan dibawa lari oleh pelaku,” sambung Erk, 30, korban yang lain.
Perempuan asal Kota Kediri itu menjelaskan jika keterlibatannya dalam arisan bodong. Dia tergiur dengan keuntungan yang bisa naik 2 kali lipat.
Apalagi, setiap hari pelaku juga memasang story WhatsApp. Tentang keberhasilan anggotanya mencairkan uang arisan. Termasuk pelaku yang berhasil membeli barang-barang mewah melalui arisan tersebut.
“Pelaku (NST, Red) juga sering mengajak kami patungan untuk membeli arisan dengan get yang besar. Gaya hidupnya yang terkenal mewah pun membuat kami percaya bahwa dia amanah,” tuturnya, kali ini dengan nada kesal.
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, NST, 26, warga Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, memang lihai merayu pelanggan thriftnya untuk membeli arisan yang dia jual. Mirisnya, arisan yang harusnya dijual untuk satu orang saja ternyata juga dijual kedua sampai 3 orang. Itu baru diketahui setelah kasusnya ramai dan korban berupaya mencari tahu kebenarannya.
Baca Juga: Korban Arisan Bodong Kumpulkan Surat Kuasa, Berupaya Menyerahkan ke Polda Jatim Jumat Lusa
“Setiap ditanya apakah stok get arisannya masih ada, dia selalu menjawab masih. Padahal itu sudah dijual ke orang lain lebih dahulu,” tandasnya.
Modus lainnya, dengan melancarkan pencairan di awal dengan nominal kecil juga membuat anggotanya semakin percaya. Tak heran, korban pun dengan kesadaran penuh tidak mengambil pencairan namun justru digunakan untuk membeli get arisan yang lebih tinggi. Padahal realitanya ketika sudah banyak sulit untuk dicairkan.
Bahkan belum sampai korban menikmati hasilnya sudah terjadi masalah. Alasannya, arisannya jebol. Terjadi permasalahan pada deponya. Yang setelah ditelusuri, depo itu tak ada sangkut pautnya dengan uang korban.
Kemahirannya dalam memengaruhi orang itu pun sampai ke tetangga sekitar. Sebenarnya korban yang merupakan tetangganya ini jarang sekali berinteraksi atau melihat story pelaku.
Namun ada momen ketika dia dalam kondisi bingung mencari tempat menyimpan uang. Muncullah story pelaku yang memperjualbelikan arisan. Merasa butuh, korban pun tanpa ragu mentransfer sisa uang kepada pelaku. Dengan maksud, ketika diambil bulan depan uang sudah bertambah 25 persen.
“Saya belinya get sedikit. Mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Karena memang berniat buat nyantolin uang saja biar tidak terpakai untuk hal tidak penting,” terang RD.
Ibu dua anak itupun menyampaikan bahwa uang tersebut hasil dari jual kalung. Sebelumnya uang yang dimiliki itu untuk membiayai pengobatan dua anaknya di rumah sakit.
Ketika ada sisanya dia bermaksud menyimpan di arisan. Dengan harapan uang bertambah. Nahasnya, dia menjadi korban, hingga jadwal pencairan pada Rabu (17/12) dan Kamis (18/12) pun tak ada wujud uangnya.
Baca Juga: Korban Arisan Bodong Kumpulkan Surat Kuasa, Berupaya Menyerahkan ke Polda Jatim Jumat Lusa
Nasib buruk tak berhenti. Sang ayah, yang tahu anaknya jadi korban, jatuh sakit dan meninggal dunia.
“Saya tidak pernah cerita keikutsertaan arisan kepada siapapun. Termasuk ayah dan suami saya. Kadang saya juga bertanya apakah ayah saya meninggal karena tahu dari orang lain kalau anaknya menjadi korban,” bebernya dengan lirih.
Perempuan asli Kota Kediri ini berharap uangnya kembali. Meskipun hanya modalnya saja. Sebab itu satu-satu tabungan yang dimilikinya. Mengingat keterbatasan ekonomi seringkali membuatnya kesusahan ketika tidak punya tabungan.
“Cuma berharap uang modal saya dikembalikan itu saja. Ada dua anak dan ibu saya yang membutuhkan uang tersebut,” pintanya dengan nada bergetar.
Apapun, musibah ini tetap saja ada hikmah. Agar jangan mudah percaya bisa mendapat uang dalam waktu cepat.
“Saya juga ikut arisan RT (rukun tetangga, Red) yang dipimpin langsung oleh ibu RT. Bayarnya setiap pertemuan cuma Rp 50 ribu tetapi sampai sekarang aman saja,” pungkasnya.
Editor : rekian