Kepala Lapas Kelas II A Kediri, Solichin, menyatakan bahwa para tahanan berasal dari latar belakang beragam, mulai dari yang sudah lulus sekolah, putus sekolah, hingga yang bekerja. Peran mereka dalam kerusuhan juga berbeda-beda.
"Ada yang terlibat aksi perusakan, ada pula yang melakukan penjarahan dengan nominal kecil hingga besar," jelas Solichin. Ia menyebut sebagian besar terdorong melakukan tindakan tersebut karena rasa fear of missing out (FOMO) saat melihat orang lain menjarah.
Di dalam Lapas, para tahanan akan menempati ruangan yang digabung dengan tahanan kasus lain. "Mereka sudah tahu cara membedakan mana yang baik dan buruk. Sehingga bisa membentengi diri sendiri," imbuh Solichin.
Selama satu bulan ke depan, mereka akan mengikuti masa pengenalan lingkungan (Mapenaling) yang meliputi pembiasaan salat berjamaah, pengajian rutin, dan pelatihan keterampilan.
"Kami harap selama di sini mereka bisa berubah menjadi lebih baik dan memiliki keterampilan yang bermanfaat usai menjalani hukuman," pungkasnya.
Baca Juga: Trauma, Korban Pencabulan Guru Ngaji di Kota Kediri Alami Gangguan Psikologis
Kerusuhan akhir Agustus lalu menyebabkan kerusakan dan penjarahan besar-besaran di sejumlah kantor pemerintahan, dengan ribuan unit peralatan kantor dan kendaraan hilang atau dirusak.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian