KEDIRI, JP Radar Kediri- Pemeriksaan tuberkulosis (TBC) kepada ratusan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIA Kediri telah rampung.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pasalnya, petugas mendapati ada warga binaan yang positif terjangkit TBC.
“Hasilnya ada enam WBP (positif TBC),” ujar Kalapas Kelas II A Kediri Solichin melalui Kasi Binadik Kediri Harry Suryadi.
Untuk diketahui, pada Kamis (6/11) lalu, pihaknya melakukan pemeriksaan tuberkulosis pada seluruh warga binaan.
Itu atas beberapa pertimbangan. Pertama, untuk memantau kondisi kesehatan mereka. Kedua, jumlah warga hunian yang melebihi kapasitas rentan untuk mengalami penyakit menular.
Ketiga, bisa segera mengambil tindakan apabila ditemukan tanda-tanda narapidana yang mengidap penyakit tertentu.
“Saat ini jumlah penghuni lapas ada 968 orang. Sedangkan kapasitas idealnya hanya bisa menampung 325 warga binaan,” terangnya.
Mengingat kondisi tersebut, pihak Lapas Kediri berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan sehat.
Dengan kegiatan skrining kesehatan active case finding (ACF) yang berlangsung 4 hari kemarin diharapkan bisa mendeteksi dini penyakit yang dialami WBP. Serta meminimalkan penularan penyakit kepada warga hunian lainnya.
Pihak Lapas pun mengambil langkah tegas. Itu dibuktikan ketika ada WBP yang terjangkit TBC langsung dipindahkan ke kamar isolasi.
Ditanya terkait durasi waktu, Harry menyebut jika warga binaan tersebut akan berada di ruang isolasi hingga benar-benar dinyatakan sudah sembuh.
“Kami pantau dengan pemberian obat secara rutin. Mereka juga akan berada di kamar isolasi sampai dinyatakan sembuh,” tandas Harry.
Seperti yang diberitakan, WBP mengikuti pemeriksaan TBC dimulai pada Kamis (6/11) lalu. Berlangsung selama 4 hari, pemeriksaan tersebut berupaya menyasar seluruh warga hunian.
Setiap WBP yang telah diperiksa akan dicatat dan didokumentasikan hasil rontgennya secara digital.
Nantinya d atabase kesehatan warga binaan menjadi lebih lengkap dan komprehensif. Tentu juga memudahkan tindak lanjut medis bila ditemukan indikasi Tuberkulosis.
Selain pemeriksaan, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi mengenai bahaya TBC, cara penularan, dan langkah-langkah pencegahan.
Diantaranya dengan menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan etika batuk, dan pentingnya konsumsi obat secara teratur bagi penderita.
Editor : Andhika Attar Anindita