JP Radar Kediri – Penerapan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) masih belum banyak disadari masyarakat Kediri Raya. Terbukti, jumlah yang terkena tilang elektronik tersebut masih tinggi.
Kebanyakan, para pengendara yang terkena tilang tersebut adalah warga pinggiran. Penyebabnya adalah kesadaran menggunakan perlengkapan kendaraan bermotor masih rendah.
Penyebab terbesar dari tilang ETLE itu adalah penggunaan helm oleh pengendara sepeda motor. Mereka terekam kamera ETLE berkendara tanpa menggunakan pelindung kepala tersebut.
Hal itu dijelaskan oleh Kepala Unit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (Kanit Turjawali) Polres Kediri Kota Iptu Murnianto. Yang menyebut ada puluhan kendaraan yang terekam datanya sebagai pelanggar lalu lintas di Jalan Raya Kediri - Nganjuk. Khususnya dari Pasar Gringging hingga Polsek Tarokan.
“Mayoritas mereka melanggar saat sedang beraktivitas pagi,” jelas perwira yang akrab disapa Murni ini.
Razia biasanya dilakukan pukul 07.00 hingga 08.30. Meskipun hanya satu jam, total ada puluhan hingga ratusan pelanggar yang terjaring. Namun yang datanya terekam atau valid dalam sistem hanya sekitar berjumlah sekitar 26.
Lebih lanjut dia menjelaskan, tidak validnya data tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya yaitu motor yang tidak jelas asal-usulnya. Sehingga ketika terekam datanya tidak langsung terdeteksi.
“Ini kalau jelas data kepemilikannya langsung terekam di sistem kami,” ujarnya sembari menujukkan data pelanggar ETLE di komputernya.
Untuk diketahui, warga yang terjaring razia ETLE didominasi oleh usia 30 sampai 40 tahun. Terutama ibu rumah tangga. Yaitu mereka yang sedang berangkat ke pasar maupun mengantar anaknya sekolah.
“Mereka berkendara tidak memakai helm. Padahal sedekat apapun jaraknya harus tetap menggunakan kelengkapan berkendara,” ucap perwira dengan dua balok emas di pundak itu. (*)
Editor : Mahfud