KEDIRI, JP Radar Kediri– Lapas Kelas II A Kediri tak ingin kecolongan lagi. Mereka memperketat distribusi barang masuk dari pengunjung. Dengan memanfaatkan alat cek narkoba serta X-Ray.
“Meskipun sudah tercampur dalam makanan kami tetap bisa mendeteksi dengan alat cek narkoba. Sehingga ada atau tidaknya kandungan narkoba dapat diketahui,” ujar Kalapas Kelas II A Kediri Solichin.
Menurutnya, para narapidana selalu memiliki akal untuk menyelundupkan narkoba. Baik diselundupkan di olahan sayur, kulit kacang maupun dimasukkan ke alat kelamin.
Pihaknya mengantisipasi kejadian serupa dengan memperketat pengamanan dan pengawasan. Salah satunya menggunakan alat X-Ray.
“Apa yang ada di dalamnya dapat tergambar dalam layar monitor. Sehingga sekiranya ada yang mencurigakan bisa terdeteksi lebih dini,” tuturnya.
Selanjutnya, memperketat barang bawaan. Yang sebelumnya tidak ada pembatasan barang masuk, kini sudah dibatasi.
Pembatasan ini juga diimbangi dengan peningkatan fasilitas lapas. Misalnya pembatasan makanan yang dibawa oleh pihak keluarga.
Untuk diketahui, penyelundupan narkoba dalam makanan ini yang paling sering dilakukan oleh napi.
Itu karena mereka menganggap akan sulit diketahui oleh petugas. Padahal realitanya dimanapun mereka menyembunyikan petugas tetap bisa mendeteksi.
Dibuktikan dengan seringnya petugas lapas menemukan narkoba jenis sabu-sabu di dalam makanan.
Baik yang masih terbungkus utuh maupun yang sudah tercampur dengan makanan. Seperti sabu-sabu yang diselundupkan dalam mie instan maupun makanan kemasan.
Pada 2024 lalu, petugas menemukan narkoba jenis sabu-sabu dalam nasi goreng. Itu diketahui setelah pihaknya curiga dengan salah satu penghuni lapas.
Yang mana sering dibawakan nasi goreng oleh keluarga lalu diperjualbelikan di lapas dengan bungkus kecil-kecil.
“Kalau yang sudah dicampur di makanan ini memang menjadi tantangan bagi petugas,” aku bapak satu anak ini.
Alhasil, setiap makanan yang masuk dalam lapas akan dicek mendetail oleh petugas lapas. Itu adalah standar operasi pelayanan (SOP) yang harus dijalankan.
Selain menggunakan alat X-Ray, pihaknya juga menggunakan alat pendeteksi narkoba. Khususnya dengan memasukkan pada alat tes urine.
Sehingga sabu-sabu yang tercampur menjadi satu dengan makanan pun akan dapat terdeteksi.
“Terkadang saya itu menyayangkan tindakan seperti itu (mencampurkan sabu di makanan, red). Padahal sudah menjadi narapidana, eh keluarga masih mau diminta melakukan tindakan yang salah,” pungkas Solichin. (la/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita