Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Penyebab Warga Binaan Lapas Kelas IIA Kediri Harus Diperiksa HIV Secara Acak

Hilda Nurmala Risani • Sabtu, 28 Juni 2025 | 15:59 WIB
Petugas memeriksa kondisi kesehatan para narapidana dan tahanan di Lapas Kelas II A Kediri untuk deteksi dini penyakit human immuno virus (HIV).
Petugas memeriksa kondisi kesehatan para narapidana dan tahanan di Lapas Kelas II A Kediri untuk deteksi dini penyakit human immuno virus (HIV).

JP Radar Kediri – Kondisi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri sudah masuk kategori overload. Jumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP)-istilah pengganti narapidana-tak sebanding dengan kuota ideal. Akibatnya, memunculkan risiko terjadinya penularan beragam penyakit. Terutama human immune virus (HIV).

Mengantisipasi hal tersebut, pihak lapas yang berada di Jalan Jaksa Agung Suprapto tersebut melakukan antisipasi. Memeriksa para napi untuk mengetahui apakah terinfeksi HIV atau tidak. Namun, tidak semuanya yang dites. Melainkan hanya secara acak, 27 orang saja.

“Pemeriksaan HIV ini merupakan Langkah penanggulangan sejak dini penyebaran HIV di lapas,” sebut Kepala Lapas Solichin.

Tes dilakukan sekitar pukul 09.00. Mereka yang dites dipilih secara acak. Diambil sampel darahnya secara bertahap.

Sebelum diambil sampel darahnya WBP terlebih dulu menjalani pemeriksaan kesehatan. Di antaranya diperiksa tekanan darah. Ditanya pula riwayat penyakit yang pernah diderita.

Rangkaian pemeriksaan atau screening HIV itu menurut Solichin sengaja digelar untuk deteksi dini. Jika ada narapidana yang menderita penyakit tertentu bisa segera mendapat penanganan. Termasuk dengan pemberian obat secara rutin.

Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Rutan Kelas I Surakarta mengaku bersyukur. Hasil pemeriksaan kemarin menunjukkan tidak ada yang terjangkit atau dinyatakan positif HIV. Namun demikian pihaknya tidak puas begitu saja. Lapas akan tetap menggelar pemeriksaan kesehatan secara rutin.

“Alhamdulillah hasilnya kemarin negatif semua,” ujarnya dengan melempar senyum.

Secara umum, proses pemeriksaan HIV berjalan tertib. Mulai dari antrean, screening, pengambilan darah, hingga konseling dilaksanakan secara bergiliran. Meskipun beberapa napi sempat khawatir dan ketakutan saat akan diperiksa. Tetapi, apapun alasannya mereka tetap diminta mengikuti rangkaian pemeriksaan yang telah disiapkan.

Lebih jauh Solichin menjelaskan, kegiatan pemeriksaan HIV kemarin (25/6) dilakukan secara bertahap dan rutin. Sebab, jika dilakukan serentak yang efektif hanya yang awal. Sedangkan yang terlibat dalam pemeriksaan berikutnya bisa lebih dulu mengantisipasi agar tidak terdeteksi.

Sementara itu, terkait kondisi lapas, Solichin mengakui bila dalam keadan overload atau kelebihan penghuni. Saat ini mereka menampung 939 WBP. Padahal, idealnya adalah 325 saja. Karena itulah risiko penularan HIV lebih tinggi disbanding lapas lain.

“Total penghuni lapas sekarang adalah 939. Yang mana jumlah ini lebih dari kapasitas yang disediakan,” ungkap lelaki berbadan tegap itu.

Untuk diketahui, HIV ini merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Apabila tidak segera terdeteksi maka akan berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Yang merupakan tahapan akhir infeksi HIV dan mengakibatkan kekebalan tubuh sangat lemah.

Memang benar HIV tidak akan menular hanya dengan berjabat tangan, berpelukan maupun berbagi makanan. Namun tidak menutup kemungkinan penularan dilakukan akibat adanya oknum yang melakukan tindakan di luar dugaan. Seperti menggunakan tato, tindik, serta alat suntik yang tidak steril dan terkontaminasi oleh darah penderita HIV.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi preventif yang mendukung lingkungan pemasyarakatan yang sehat, aman, dan manusiawi,” terangnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.

Tak hanya pemeriksaan, tim medis juga turut mengedukasi agar napi mengetahui penyakit HIV/AIDS. Termasuk cara penularannya. Lalu perlunya tindak pencegahan seperti pentingnya pola hidup bersih dan penggunaan alat pelindung diri.

Terakhir, melalui kegiatan ini diharapkan warga binaan dapat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya dan mampu menjadi agen perubahan positif di lingkungan lapas.(*)

Editor : Mahfud
#WBP #overload #hiv