Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Kediri yang Tewas Dibunuh di Jombang sempat Kirim Pesan Mendalam ke Keluarga sebelum Meninggal Dunia

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 11 Januari 2025 | 16:06 WIB
BERDUKA: Widyawati, 43, kakak Septian Adi Ferdiansyah menunjukkan foto semasa hidup adiknya ditemani Supiyah, sang ibu, kemarin.
BERDUKA: Widyawati, 43, kakak Septian Adi Ferdiansyah menunjukkan foto semasa hidup adiknya ditemani Supiyah, sang ibu, kemarin.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Widyawati, 43, tak pernah menyangka jika pesan yang dikirim Septian Adi Ferdiansyah, 24, sang adik, sekaligus jadi pamitan terakhirnya.

Pesan lewat WhatsApp pada Kamis (9/1) malam lalu yang berisi permintaan maaf, sekaligus menjadi sapaan terakhir kakak beradik itu.

Sebab, Septian tewas sekitar pukul 22.15 setelah ditusuk oleh Febri Wahyudi, 26, kapster di barbershop Jombang.

Kabar kematian Septian secara tragis itu langsung menyebar dengan cepat. Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi rumah duka di Desa Pakis, Kunjang sekitar pukul 13.00 kemarin, prosesi pemakaman di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat masih belum selesai.

Selang 30 menit kemudian, para pelayat terlihat meninggalkan makam. Namun, ada pasangan suami istri yang tak kunjung beranjak dari pusara. Mereka terlihat menangis sesenggukan dengan mulut komat-kamit memanjatkan doa.

“Tidak ada firasat sama sekali (Adi meninggal, Red),” kata perempuan yang tak lain adalah Widyawati, kakak Adi, sambil terus berurai air mata.

Perempuan yang kemarin memakai baju warna abu-abu itu mengaku mendapat kabar kematian Adi sekitar pukul 23.00.

Dia sempat mengira telepon yang masuk dari nomor asing itu penipuan. Sebab, banyak modus serupa yang ujung-ujungnya meminta sejumlah uang.

Belakangan baru diketahui jika penelepon adalah pihak Indomaret Jombang, tempat Adi bekerja. “Saya langsung lemas. Tidak percaya,” kenang Widya sembari menangis lebih keras.

Dia langsung syok. Sebab, dua jam sebelum Adi dikabarkan meninggal sekitar pukul 20.00, sang adik mengiriminya pesan.

Selain bercanda seperti biasanya, di akhir pesan Adi sempat meminta maaf. Sebab, dia merasa belum bisa perhatian kepada Widya dan Supiyah, sang ibu.

Agaknya Adi merasa bersalah karena dia belum bisa berbakti kepada keluarga seperti yang dilakukan oleh almarhum kakaknya.

“Sepurane sing akeh ya Mbak. Karo sampean, karo Mak,” lanjut Widya menirukan pesan terakhir adiknya.

Merasa aneh dengan pesan adiknya, Widya pun membalas dengan bercanda. “Durung riyaya kok jaluk sepura,” papar perempuan berkerudung hitam itu kembali berurai air mata.

Seperti halnya Widya yang langsung syok, Supiyah dan Suyatno, orang tua Adi juga langsung histeris mendengar kabar kematian anak bungsunya itu.

“Mak’e beberapa kali pingsan. Wis nangis terus seperti orang gila,” urai perempuan yang kemarin memegangi foto adiknya semasa hidup itu.

Supiyah tak menyangka jika pemuda yang pamit bekerja sekitar pukul 15.00, Kamis (9/1) lalu itu akan pulang dalam kondisi menjadi mayat.

“Dia anak yang baik. Nggak aneh-aneh,” sambung Supiyah yang kemarin siang terlihat mulai tenang.

Air matanya jatuh lagi saat teringat dirinya sudah membelikan nasi goreng agar bisa segera disantap Adi saat pulang ke rumah. Namun, nasi goreng yang merupakan makanan kegemaran Adi itu urung disantap hingga akhir hayatnya.

“Pokoknya kami ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Kami minta keadilan,” tegas Supiyah diamini Widya.

Untuk diketahui, Adi yang bekerja di Indomaret tewas dengan luka tusuk di dada kiri dan di leher.

Pelakunya adalah Febri Wahyudi, 26, kapster di barbershop Jombang yang terletak persis di depan tempat kerja Adi. Aksi kejam Febri diduga dilatarbelakangi kecemburuan karena mantan pacar Febri menjalin hubungan dengan Adi.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#warga kediri #hukum #kediri #kriminal #Peristiwa #jombang