KEDIRI, JP Radar Kediri- Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto belum dimulai. Namun, ada saja yang berusaha mengambil keuntungan dari program nasional itu.
Puluhan ibu-ibu pelaku usaha katering di Mojoroto tertipu penawaran tender yang mencatut nama Kodim 0809 Kediri.
Sedikitnya ada 70 pelaku usaha katering di Kota dan Kabupaten Kediri yang terpikat dengan MBG fiktif itu.
Pelaku yang mengaku sebagai pemenang tender penyuplai paket MBG dari Kodim 0809 Kediri menawarkan kerja sama pada para pemilik katering.
Untuk bisa menjadi penyuplai, pemilik katering diminta menyetor uang jaminan minimal Rp 1 juta.
Penawaran oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) Manunggal Cipto Roso Kuliner itu menyebar dari mulut ke mulut.
Melalui para pelaku usaha katering di Kota Kediri. Mayoritas merupakan ibu rumah tangga yang menggeluti pemesanan makanan rumahan.
“Setiap orang bisa berbeda kerugiannya. Ada yang Rp 1 juta untuk yang menyanggupi (menyuplai, Red) seribu kotak (paket MBG, Red). Ada yang Rp 3 juta berarti ya (menyuplai, Red) tiga ribu kotak,” ungkap Dwi Yuniarti, sembari menyebut uang yang ditransfer itu sebagai jaminan kepesertaan mereka.
Di Kecamatan Mojoroto, menurut Dwi sedikitnya ada 43 orang yang menjadi korban. Mereka tertarik ikut menyuplai karena sesuai hitung-hitungan masih bisa untung.
“Dari paket Rp 10 ribu itu yang untuk makanan hanya Rp 9 ribu. Yang seribu rupiah untuk kotak dan transport,” lanjutnya.
Jika sehari bisa menyuplai seribu kotak makanan selama lima tahun, menurut hitungan Dwi mereka bisa meraup untung. Hal itulah yang membuat pelaku katering dengan senang hati menyetor uang jaminan.
“Kami dijanjikan tiga hari sebelumnya itu ada pencairan 40 persen untuk belanja bahan-bahan. Ada juga pinjaman Rp 20 juta untuk beli alat-alat kebutuhan. Siapa yang nggak tertarik?” tuturnya tentang iming-iming yang menggoda itu.
Baca Juga: 19 Narapidana di Lapas Kelas II A Kediri Terima Remisi, Napi Korupsi RSKK Dapat Potongan Satu Bulan
Nining Murtriningsih, 50, korban lainnya mengaku mengetahui program itu dari kenalannya.
Setelah bergabung, Nining juga mengajak teman-temannya sesama pengusaha katering untuk mengambil peluang itu.
Apalagi, menurutnya selama ini sektor bisnis itu semakin sepi terdampak pandemi Covid-19.
“Awalnya nggak ada embel-embel bayar untuk jaminan dan sebagainya. Tapi setelah kurang lebih tiga hari, disuruh bayar Rp 750 ribu untuk uang jaminan. Setelah kita transfer, hari berikutnya disuruh transfer lagi Rp 250. Jadi per seribu kotak harus membayar Rp 1 juta,” bebernya.
Sepengetahuannya, sudah ada 70 orang yang menjadi korban program kemitraan fiktif itu. Dari situ, total uang yang sudah ditransfer sedikitnya mencapai Rp 72 juta.
Uang diterima oleh Koordinator Pokmas Manunggal Cipto Roso Kuliner Margaretha.
Mengapa mereka tertarik bergabung? Selain tawaran program yang memang menggiurkan, menurut Nining pelaku usaha katering tertarik karena pokmas mengaku memenangkan tender yang digelar oleh Dandim 0809 Kediri.
“Pertama promosi, Mbak Margaretha itu bilang dari dandim langsung turun ke Margaretha. Mbak Margaretha bilang kalau dia pemenang tender program ini,” paparnya.
Namun, para pelaku usaha katering menjadi curiga setelah dicek di alamatnya, Pokmas Manunggal Cipto Roso Kuliner itu tidak ada.
Saat didatangi, alamat pokmas di Jl Bhagawan Tabari Gang 1 RT 03/RW 02 Desa Gogorante, Ngasem, Kabupaten Kediri itu hanya lahan kosong.
“Kami hanya berharap uang kembali. Kalau uang sudah kembali, nggak mungkin kita lapor ke polisi,” tandas perempuan yang merugi jutaan rupiah itu.
Dikonfirmasi koran ini, Margaretha melalui Rudy, suaminya, membenarkan tentang jaminan yang dibebankan kepada ibu-ibu katering.
Dia berdalih, jaminan itu akan dicairkan atau diserahkan pada pelaku usaha katering setelah mereka menyuplai makanan di hari-H launching MBG.
Baca Juga: Salah Satu Terdakwa Kasus Madu Klanceng di Kediri Dituntut Empat Tahun Penjara
“Kalau tetap masak (menu MBG, Red), nanti jarak seminggu setelah itu (uang jaminan, Red) dikembalikan. Yang kedua, kalau ada gagalnya proyek tender ini, (uang, Red) dikembalikan,” jelas Rudy.
Diakui Rudy, sebelum program terealisasi ada pihak yang merasa waswas. Mereka menagih pengembalian uang jaminan.
Dia pun mengaku sudah menemui ibu-ibu katering. Dari sana disepakati pengembalian jaminan dilakukan dalam waktu tujuh hari.
“Ini sudah ada upaya pengembalian, Cuma belum bisa dikembalikan tapi ada jaminan. Sudah saya kasih jaminan mobil sama motor,” urainya sembari menyangkal adanya unsur penipuan di sana.
Terkait pencatutan nama dandim, menurutnya itu yang diyakininya dari atasannya.
Yakni, Ketua Pokmas Manunggal Cipto Roso Kuliner Wuryaningsih. Sang ketua itulah yang kata Rudy mengikuti tender di Kodim 0809 Kediri.
“Kami pun penyampaian ke katering-katering dari awal tidak fiks (memenangkan tender, Red),” lanjut Rudy sembari menolak istrinya disebut sudah memastikan memenangkan tender dari kodim.
Terpisah, Komandan Kodim (Dandim) 0809/Kediri Letkol Inf Ragil Jaka Utama membantah adanya tender atas nama dirinya atau kodim.
Di Kediri, hingga saat ini belum ada pendirian satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk memulai pelaksanaan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu.
“Dapurnya saja belum berdiri di Kediri,” ujarnya sembari menyebut, pihaknya belum mendapat perintah untuk menindaklanjuti program tersebut.
Dia mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur iming-iming orang yang tidak dikenal. Terlebih sampai mengatasnamakan instansi pemerintah.
“Apalagi mengatasnamakan institusi TNI sebagai pihak rekanan dan memungut uang. Tolong masyarakat jangan mudah percaya,” tegasnya.
Selain itu, menurut Ragil program tersebut berasal dari Badan Gizi Nasional. Sehingga bisa dipastikan tidak akan memerintahkan orang untuk memungut uang atau pungli dari masyarakat.
“Ini program pemerintah yang terencana dengan baik. Sekali lagi saya imbau kepada masyarakat, jangan mudah percaya dengan iming-iming seperti itu,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah