KEDIRI, JP Radar Kediri- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merespons kasus keracunan jajanan impor dari Cina yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Kemarin, mereka melakukan sidak ke sejumlah toko grosir jajanan di Kota dan Kabupaten Kediri. Kepada pengelola toko, tim meminta agar penjualan jajanan tersebut ditahan lebih dulu.
Pantauan koran ini, tim dari Balai Pengawas Obat dan Makanan Kediri mendatangi toko grosir jajanan di Desa Sitimerto, Pagu.
Selanjutnya, mereka juga mengecek jajanan di toko Desa Kwadungan, Ngasem. “Untuk wilayah kabupaten sementara aman,” kata Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan Kediri Gidion melalui Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Tito Veriyanto.
Setelah mendatangi dua toko tersebut, tim mendatangi grosir jajanan di Jl Pattimura, Kelurahan Setonopande, Kota Kediri.
Dua toko yang sudah disidak Jumat (1/11) lalu itu kembali didatangi kemarin. Sembari menunggu instruksi
dari BPOM pusat, balai Kediri mengimbau agar penjualan jajanan viral itu di-hold atau ditahan dulu. “Sidak hari ini (di grosir Jl Pattimura, Red) sekaligus memastikan jenis latiao yang ada di sini,” lanjut Tito.
Untuk diketahui, total ada sekitar 90 produk jajanan la tiao yang beredar di Indonesia. Berdasar hasil pemeriksaan BPOM, empat jenis di antaranya dinyatakan mengandung bakteri bacillus cereus.
“Yang terkonfirmasi ada empat, sesuai hasil pemeriksaan pusat. Yaitu Luvmi Hot Spicy Latiao, CNJ Candi Joy Latiao, KK Boy Latiao, sama Lianggui Latiao.
Sementara yang diuji dan terkonfirmasi positif bacillus cereus ada empat itu,” jelasnya.
Setelah hasil uji keluar, untuk empat merk latiao tersebut langsung diinstruksikan untuk ditarik. Termasuk yang beredar di wilayah Kediri.
Khusus untuk latiao yang dijual di toko jajanan Jl Pattimura, menurutnya total ada delapan jenis. Salah satunya terkonfirmasi mengandung bakteri bacillus cereus.
Untuk satu produk tersebut, Tito menegaskan BPOM sudah meminta pengelola toko untuk meretur atau mengembalikan produk ke distributor.
“Ada satu saja, yang CNJ (CNJ Joy Latiao, Red) dan distributor sudah kami surati untuk lakukan retur,” paparnya.
Selain meretur ke distributor, menurut Tito BPOM juga sudah meminta toko untuk menarik jajanan tersebut dari toko maupun pedagang-pedagang. Sehingga, latiao yang sudah menyebar di pasaran bisa lebih terkendali.
Bagaimana dengan latiao merk lain yang masih ada di sejumlah toko grosir? Tito menyebut, pihaknya juga sudah meminta agar penjualannya ditahan dulu alias tidak dijual untuk sementara. “Sampai menunggu hasil pemeriksaan dan pengujian final dilakukan,” tandasnya.
Untuk diketahui, bakteri bacillus cereus bisa mengakibatkan keracunan. Gejalanya, mual, muntah, hingga sakit kepala.
Jika ditangani dengan tepat dan cepat, tidak menimbulkan dampak lebih lanjut. Namun, tetap harus diwaspadai.
Sementara itu, Bambang Giantoro, salah satu pemilik toko grosir jajanan di Jl Pattimura mengatakan, saat karyawannya kulakan jajanan dari Cina itu, mereka tidak tahu jika jajanan yang sedang dicari banyak konsumen itu ternyata ada bakterinya.
“Karena dari pusat juga diizini (diizinkan, Red). Jadi tidak tahu kalau ternyata seperti itu,” terang Bambang.
Terkait permintaan BPOM agar jajanan diretur dan di-hold, menurut Bambang akan langsung ditindaklanjuti. “Karyawan kami minta untuk meretur (latiao, Red),” imbuh Bambang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah