Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

BPOM Telusuri Asal Barang Kedaluwarsa yang Dimiliki Tersangka Keracunan Massal di Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 7 Oktober 2024 | 16:56 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri-Selain penyidikan yang dilakukan oleh polisi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga ikut menelusuri asal barang-barang kedaluwarsa yang disimpan oleh Anik Fatul Fauziah. Demikian pula distribusi barang-barang kedaluwarsa yang disimpan oleh Anik.

Kepala Balai POM Kediri Gidion mengatakan, timnya sudah melakukan pemeriksaan di sejumlah toko di Kecamatan Badas.

Hasilnya, tim BPOM tidak menemukan barang-barang kedaluwarsa seperti di toko Tiga Putra milik Anik.

"Kami memastikan tidak ada produk kedaluwarsa di sekitaran situ. Jadi tidak ditemukan makanan (kedaluwarsa) yang didistribusikan di wilayah terdekat," kata Gidion.

Lebih jauh Gidion menyebut, pelacakan di wilayah Badas atau di sekitar toko Tiga Putra yang terletak di Desa Krecek, Badas, dilakukan untuk memastikan barang-barang kedaluwarsa milik Anik tidak diedarkan di sekitarnya.

Setelah memastikan barang-barang tak layak itu tidak beredar di sana, Gidion menyebut timnya juga melacak asal barang kedaluwarsa yang ditimbun oleh Anik.

"Kami menelusuri juga, produk ini didapat dari mana. Apakah dari produk resmi yang tadinya aman, kemudian kedaluwarsa.

Atau dibeli dari pihak mana,” lanjut Gidion sembari menyebut BPOM masih melakukan pengembangan. Di saat yang sama kepolisian juga mengintensifkan penyidikan.

Apakah BPOM sudah menemukan titik terang terkait asal barang kedaluwarsa milik Anik? Gidion menyebut hingga kemarin masih belum ada petunjuk pasti. Dia memastikan BPOM akan bekerja sama dengan kepolisian untuk mengungkap kasus ini.

“Kami membantu pemantauan di lapangan. Terkait barang-barang itu sudah tersebar kemana saja,” terangnya.

Tidak hanya itu, BPOM juga memberi masukan kepada Polres Kediri terkait undang-undang yang mengatur peredaran barang. Termasuk barang yang sudah kedaluwarsa seperti yang dilakukan Anik.

Untuk diketahui, selain melakukan pelacakan asal barang kedaluwarsa yang ditimbun Anik, BPOM juga melakukan uji laboratorium makanan dan minuman kedaluwarsa. Total ada lebih dari 10 sampel makanan dan minuman yang diuji.

Sebanyak 10 sampel makanan dan minuman yang diuji, menurut Gidion merupakan makanan yang jadi pemicu keracunan masal pada Selasa (01/10) malam lalu. “Sebelumnya kami turun ke lapangan, tanya ke korban apa saja yang memicu keracunan.

Kalau jumlahnya (makanan dan minuman yang memicu keracunan, Red) nambah lagi, (yang diuji, Red) juga nambah lagi,” paparnya.

Diakui Gidion, kasus keracunan masal akibat mengonsumsi barang kedaluwarsa itu bisa juga disebut BPOM kecolongan.

Namun, dengan jumlah personel yang terbatas, pihaknya memang tidak bisa mengawasi semua titik. Karenanya, dia meminta masyarakat untuk selalu waspada.

Yakni, harus selektif saat membeli makanan dan minuman. Caranya, mulai memeriksa kondisi fisiknya hingga memeriksa label kedaluwarsanya.

"Kalau memang kemasannya terlihat rusak atau mungkin sudah ada perubahan zat dalam isinya, lebih baik hindari. Laporkan kepada kami,” pintanya.

Sementara itu, hingga kemarin Satreskrim Polres Kediri juga masih melakukan pendalaman. Termasuk menelisik dari mana Anik mendapatkan barang-barang kedaluwarsa tersebut.

Korps baju cokelat juga tengah menyelidiki kemungkinan Anik sengaja membeli barang-barang kedaluwarsa yang selama ini juga dimanfaatkan untuk pakan ternak.

“Kalau sudah ada perkembangan (asal makanan kedaluwarsa, Red), akan kami sampaikan segera," tandas Kasatreskrim Polres Kediri AKP Fauzy Pratama.

Seperti diberitakan, sekitar 200 jemaah salawatan Syubbanus Salimiyyah di Desa Krecek, Kecamatan Badas, mengalami keracunan massal Selasa (1/10) malam.

Pemicunya karena mereka mengonsumsi minuman sumbangan dari Anik yang sudah kedaluwarsa.

 Para korban keracunan sempat dirawat di RSUD Kabupaten Kediri (RSKK) dan RS HVA Toeloengredjo.

Ada pula puluhan pasien yang tidak perlu menjalani perawatan di rumah sakit karena gejala sakitnya tergolong ringan. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #BPOM Kediri #barang kadaluarsa #penyelidikan #jawapos