Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Pemicu Kakak Habisi Nyawa Adik Kandungnya di Balowerti Kota Kediri

Novanda Nirwana • Senin, 30 September 2024 | 16:54 WIB

BERSIAP EVAKUASI: Polisi melakukan sterilisasi tempat kejadian perkara pemukulan oleh Edi Purwanto yang membuat Dadang meninggal (28/9).
BERSIAP EVAKUASI: Polisi melakukan sterilisasi tempat kejadian perkara pemukulan oleh Edi Purwanto yang membuat Dadang meninggal (28/9).

KEDIRI,
JP Radar Kediri –“Edi sing ngepruk! Edi sing ngepruk!” teriak beberapa warga di gang V Kelurahan Balowerti, Kota Kediri, sekitar pukul 23.00 Sabtu (28/9) malam lalu.

Beberapa orang yang baru saja meninggalkan lokasi usai melerai pertengkaran Edi Purwanto dan Dadang Suryanto,  adiknya, kembali masuk ke gang sempit berukuran sekitar 1,5 meter tersebut. Di sana, Dadang terlihat sudah terkapar dengan kepala belakang bersimbah darah.  

Sebelum peristiwa berdarah itu, Dadang bersama Edi, sang kakak, minum minuman keras dengan Suratno, pria asal Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo.

Pesta di depan rumah Edi itu terusik setelah sekitar pukul 22.30, tiba-tiba Dadang marah-marah dan berteriak kepada Septi, tetangganya

Pemicunya, lampu sepeda motor yang dikendarai Septi mengenai wajah Dadang hingga dia merasa silau. Mendengar pria berusia 30 tahun yang tengah mabuk itu marah-marah, Septi yang Sabtu malam lalu didampingi ibunya, memilih untuk diam.

Mereka lantas masuk ke dalam rumah. “Waktu itu, Edi minta maaf kepada Septi,” aku salah satu tetangga yang enggan disebutkan namanya.

Sejurus kemudian, ganti Edi dan Dadang yang terlibat cekcok atau adu mulut. Saking marahnya, Edi yang emosi berlari keluar gang. Pria berusia 36 tahun itu mengejar Dadang yang hendak pulang ke Sambirejo bersama Suratno.

Sambil membawa timba berwarna putih, Edi mengejar adiknya. Saat Dadang sudah berada di tengah jalan, timba itu dilemparkan kepada Dadang. “Tak lihat Pak Dadang dikepruk pakai ember cat.

Waktu itu sudah dilerai. Dirangkul sama warga,” sambung Hanik, tetangga Edi.

Perempuan berusia 55 tahun itu menyangka kegaduhan sudah selesai. Dia pun langsung masuk ke warungnya yang tak jauh dari lokasi.

Baru beberapa langkah berjalan, dia mendengar suara pukulan keras dari arah gang yang tak jauh dari lokasi.

Rupanya, setelah memukul menggunakan timba bekas cat, Edi masih tetap emosi. Pemicunya, Dadang juga masih terus ngomel-ngomel saat keluar dari gang bersama Suratno. Dadang dan Edi pun kembali terlibat perkelahian. Puncaknya, Dadang dikepruk dengan selembar keramik mengenai kepalanya bagian belakang. “Dikepruk maneh nggawe keramik (langsung meninggal, Red),” terang Hanik.

Warga yang melihat Dadang terkapar langsung mengecek kondisinya. Saat itu diketahui pria yang tinggal di Desa Sambiresik, Gampengrejo itu sudah dalam kondisi meninggal. Selanjutnya warga ramai-ramai mencari keberadaan Edi. Namun, jejaknya tak terendus.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota Iptu M. Fathur Rozikin yang dini hari kemarin berada di lokasi membenarkan tentang aksi Edi dan Dadang yang sempat berpesta miras. “Memang infonya mereka berpesta miras,” kata Fathur yang memimpin proses evakuasi sekitar pukul 00.40 dini hari kemarin.

Terkait penanganan lebih lanjut, Fathur menyebut pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. Termasuk mengendus keberadaan Edi.

“Masih kami lakukan penyelidikan,” lanjut perwira dengan pangkat dua balok di pundak ini sembari menyebut pihaknya sudah mengamankan pecahan keramik yang dipukulkan Edi pada Dadang. Pantauan koran ini dini hari kemarin, proses evakuasi mayat Dadang disaksikan puluhan warga. Mereka menyemut di tempat kejadian perkara (TKP) hingga polisi harus memasang police line atau garis polisi.

Warga baru membubarkan diri saat jenazah Dadang dinaikkan ambulans dan dibawa ke RS Bhayangkara. Jenazah pria yang bekerja di salah satu pabrik rokok Kota Kediri itu diotopsi selepas Isya tadi malam. “Sebenarnya pihak keluarga meminta agar penanganan perkara dicabut.

Tapi penanganan tetap berlanjut,” terang sumber koran ini di kepolisian tentang kedatangan keluarga korban ke Polres Kediri Kota tadi malam. 

 

Biang Ribut, Edi Dua Kali Masuk Penjara

Keributan akibat pesta miras pada Sabtu (28/9) malam lalu bukan kali pertama. Melainkan sudah terjadi berulang kali.

Selain ribut dengan Dadang, saat dalam pengaruh alkohol Edi Purwanto juga terbiasa berteriak-teriak hingga mengganggu lingkungan.

Seperti diungkapkan oleh Sutrisno, tetangga Edi. Menurutnya, pada Jumat (27/9) malam lalu dia juga mengonsumsi miras. “Saya ingatkan suruh berhenti karena ada pengajian,” aku Sutrisno.

Saat dalam pengaruh alkohol, Edi memang sering mengganggu lingkungan. Dia berteriak-teriak hingga membuat keributan. “Berbicara yang jelek-jelek kalau sedang mabuk parah.

Adiknya juga sering dimarahi,” lanjut Sutrisno tentang kemarahan Edi pada adik perempuannya yang tinggal satu rumah.

Kemarahan Edi pada adik bungsunya itu sering terjadi. Bahkan selalu dilakukan setiap dia dalam kondisi mabuk berat.

Karenanya, jika Edi sedang dalam pengaruh alkohol yang hebat, para tetangga mengajak Linda untuk tidur di rumah mereka.

Tak hanya dikenal sebagai biang keributan di lingkungan, Edi juga memiliki jejak kriminal yang panjang. Setidaknya dia sudah pernah masuk penjara dua kali.

Yang terakhir dia harus mendekam di balik terali besi karena kasus pencurian uang, perhiasan dan barang berharga milik tetangganya pada 2017 silam.

Dengan rekam jejak tersebut, menurut Sutrisno warga memilih untuk mengabaikan Edi. “Kalau ditegur malah marah.

Jadi ya dibiarkan saja,” beber Sutrisno yang sudah berkali-kali menasihati agar dia berhenti minum miras dan mendoakan kedua orang tuanya.

 Sementara itu, setelah menghilang usai memukul adiknya hingga tewas, hingga tadi malam tim buser Polres Kediri Kota masih melakukan pencarian terhadap Edi.

Polisi mengumpulkan sejumlah informasi untuk menelisik keberadaannya.

Mulai menggali informasi kepada kerabat, teman, hingga orang-orang terdekatnya. Baik yang berada di Kota Kediri, Kabupaten Kediri, hingga yang berada di luar Jawa Timur.

Sumber koran ini menyebut polisi sudah mengantongi beberapa lokasi yang mungkin jadi tempat persembunyian Edi. “Sedang dilakukan pengejaran.

Semoga segera tertangkap,” jelas sumber yang mewanti-wanti agar namanya tak dikorankan itu.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #kediri #adikkakak #jawapos #Pembunahan #Kiriminal