KEDIRI, JP Radar Kediri – Jauh sebelum penganiayaan beruntun menimpa Bintang Balqis Maulana, 14, hingga berujung maut, agaknya dia sudah tak kerasan di pesantren. Hal itu terungkap dari keinginan pemuda asal Desa Karangharjo, Glenmore, Banyuwangi untuk pulang pada Agustus 2023 lalu.
Fakta tersebut diungkapkan oleh Suyanti, 38, ibu Bintang, yang memberikan kesaksian di sidang secara online. Duka masih dirasakan ibu tiga anak itu saat di persidangan.
Mendapat pertanyaan dari jaksa penuntut umum (JPU), dia tidak langsung menjawab secara jelas. Melainkan langsung menangis tersedu-sedu. Dia tak kuasa menahan kesedihannya saat jaksa meminta tanggapan dan harapan atas kasus yang menimpa Bintang. “Belum sempat menjawab sudah menangis dulu,” kata Ketua Tim JPU Aji Rahmadi.
Lebih jauh Aji mengatakan, Suyanti baru bisa berbicara setelah menangis selama beberapa saat. Di depan majelis hakim, perempuan yang sehari-hari berjilbab itu meminta agar kasus yang menimpa anaknya diusut sampai tuntas. Dibuka selebar-lebarnya. “Mungkin yang dimaksud yang terlibat siapa saja (diusut, Red),” lanjut Aji.
Dikatakan Aji, Suyanti membeberkan kondisi Bintang sebelum penganiayaan. Termasuk permintaan pulang yang diungkapkan Bintang lewat chat di WhatsApp pada Agustus 2023 lalu.
Kepada ibunya, siswa MTs itu meminta agar dijemput di pesantren karena ingin pulang. Namun, belum sempat dijemput oleh Suyanti, Bintang kembali meralat permintaannya. Dia urung meminta pulang.
“Kata ibunya, itu anaknya (Bintang, Red) pendiam. Jadi ada minta dijemput tapi akhirnya nggak usah dijemput,” terang Aji ditemui usai sidang kemarin.
Untuk diketahui, selain Suyanti total ada enam saksi yang dihadirkan kemarin. Mereka adalah Pengasuh Ponpes Al-Hanifiyyah Fatihunnada, MN, 18; dan MA, 18, dua tersangka penganiayaan, serta dokter dari RS Arga Husada dan dokter RSUD Blambangan, Banyuwangi yang sempat memeriksa jenazah Bintang.
Keterangan para saksi kemarin mengungkap penyebab penganiayaan terhadap Bintang. Misalnya, penganiayaan Rabu (21/3) lalu dilakukan karena terdakwa marah melihat Bintang mengirim chat pada ibunya. Kemudian, penganiayaan Kamis (22/3) lalu dilakukan lantaran Bintang keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang.
Lalu, apa saja keterangan Fatihunnada? Menurut Aji dia tetap mengaku tidak tahu menahu kejadiaan penganiayaan yang menimpa Bintang. Namun, pelaku justru memberi pernyataan berbeda. “Pelaku mengaku setelah Jumatan sudah menyampaikan selain jatuh dari kamar mandi korban juga dipukul oleh empat orang ini. Jadi sudah disampaikan, cuma disangkal oleh pengurus tadi (Fatihunnada, red),” papar Aji.
Terpisah, Ketua Tim Penasihat Hukum Terdakwa Muhammad Ulinnuha menjelaskan, pihaknya menemukan kesaksian yang berbeda antara keterangan ibu korban dengan pihak rumah sakit. “Ibunya kan bilang keluar darah dari mulut, hidung, dan telinga. Ternyata dari ahli tidak seperti itu,” jelasnya.
Lebih jauh pria yang akrab disapa Nuh aitu menyebut penganiayaan dilakukan dengan spontan. Dia berdalih pelaku tidak memiliki dendam dengan korban. Dalam kesempatan sidang kemarin, Nuha juga menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Bintang. “Kami belum bisa ketemu. Tadi Alhamdulillah sudah bisa kami sampaikan,” tegasnya.
Seperti diberitakan, Bintang dianiaya sebanyak tiga kali berturut-turut di lokasi yang berbeda oleh empat orang. Mereka adalah MN, 18, santri asal Sidoarjo; MA, 18, santri asal Nganjuk; AF, 16, santri asal Bali yang juga sepupunya; serta AK, 17, santri asal Surabaya.
Akibat penganiayaan oleh para terdakwa dan tersangka itu, Bintang dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 04.00 Jumat (23/2) lalu. Jenazahnya baru dipulangkan ke Banyuwangi pada Sabtu (24/2).
Pemicu penganiayaan maut di Ponpes Al-Hanifiyyah itu beragam. Pelaku beralasan Bintang tidak bersedia diajak salat berjemaah. Kemudian, para pelaku juga emosi melihat Bintang sering mengadukan kondisi dirinya yang tidak kerasan di pesantren kepada ibunya di Banyuwangi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah