KEDIRI, JP Radar Kediri -Tim Resmob Satreskrim Polres Kediri bergerak cepat menyelidiki identitas pembuang bayi di Dusun Templek, Desa Gadungan, Puncu, Minggu (17/3) malam lalu. Hanya dalam waktu sekitar tiga jam, mereka berhasil mengamankan Ayu Susila, 19. Remaja asal Desa Lubukseberuk, Lempungjaya, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan yang nyantri di pondok dekat tempat kejadian itu, mengakui terus terang perbuatannya setelah dicecar pertanyaan oleh polisi.
Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, Ayu baru mondok di pesantren Desa Gadungan, Puncu selama 2,5 bulan. Sebelumnya, remaja yang belum menikah itu nyantri di salah satu pesantren di Jawa Tengah.
Setelah kasus penemuan bayi laki-laki di teras rumah warga Desa Gadungan, Puncu, ramai jadi perbincangan, Ahmad Mustofa, pengasuh pondok langsung menginterogasi Ayu. Dari sana, Ayu dilaporkan ke polisi.
“Betul sudah diamankan, sekarang sedang dirawat di RS Bhayangkara bersama bayinya,” terang Kapolres Kediri AKBP Bimo Ariyanto ditemui Jawa Pos Radar Kediri di RS Bhayangkara kemarin pagi usai menjenguk Ayu dan bayinya.
Untuk diketahui, bayi laki-laki Ayu ditemukan di teras rumah Supiatun, 58, sekitar pukul 20.00, Minggu malam. Perempuan yang baru pulang salat tarawih itu terkejut melihat kardus berwarna cokelat yang ternyata berisi bayi.
“Tak kira kucing, soalnya gerak-gerak. Nggak ada pikiran kalau itu bayi,” kenang Supiatun.
Setelah membuka kardus dan mendapati bayi di sana, dia langsung melaporkannya ke perangkat desa dan diteruskan ke Polsek Puncu. Selanjutnya, bayi tanpa identitas itu dibawa ke Puskesmas Pembantu Gadungan. Terakhir, dibawa ke RS Bhayangkara untuk perawatan lebih lanjut.
Rupanya, sebelum Ayu memutuskan membuang bayinya pada Minggu malam, Ahmad Mustofa, pengasuh pesantren tempat Ayu belajar, sudah menaruh curiga. Pasalnya, selama lima hari terakhir kedua kaki Ayu bengkak. Namun, saat diajak periksa ke dokter selalu menolak. “Mau diperiksakan itu selalu nggak mau,” tutur Mustofa ditemui di rumahnya kemarin.
Selain itu, beberapa hari terakhir Ayu juga tidak ikut salat berjemaah.
Dia juga jarang turun dari kamarnya yang ada di lantai dua. Karenanya, begitu kabar penemuan bayi jadi perbincangan, Mustofa langsung menaruh curiga pada Ayu.S
aat awal ditanyai, menurut Mustofa santrinya itu tidak mengaku. Namun, setelah dicecar dia baru berterus terang. Dia melahirkan sendiri bayinya di kamar mandi pondok sekitar pukul 16.00. Kebetulan, pondok sedang sepi. “Ini memang liburan, jadi pulang semua. Tapi dia (Ayu, Red) tidak pulang,” terang Mustofa sembari menyebut Ayu menutupi perutnya yang membesar dengan memakai baju-baju yang besar dan kerudung yang lebar.
Selanjutnya, sekitar pukul 17.00, Ayu menyembunyikan bayinya di kardus dan diletakkan di kamar. Agar tangisan bayi tidak didengar orang, dia meredam suara dengan menutupi kardus menggunakan kain dan pakaiannya.
Kemudian Ayu mengamati situasi luar pesantren. Setelah semua orang salat tarawih sekitar pukul 19.00, dia meletakkan bayi malang itu di teras rumah Supiatun.
Kepada Mustofa, Ayu mengaku menjalin hubungan dengan kekasihnya di Jawa Tengah. “Jadi hubungannya (dengan pacar, Red) itu sebelum mondok di sini,” paparnya.T
erpisah, Kasatreskrim Polres Kediri AKP Fauzy Pratama menuturkan, dilihat dari fisiknya, Ayu dalam kondisi sehat. Meski demikian, polisi tetap merekomendasikan perawatan di RS Bhayangkara. “Hasil pemeriksaan mendalam masih belum keluar,” terang Fauzy.
Lebih jauh Fauzy menegaskan, anggotanya belum melakukan pemeriksaan secara detail terkait kasus pembuangan bayi tersebut. Yang menjadi prioritas anggotanya, menurut Fauzy adalah keselamatan ibu dan bayi lebih dulu. “Kalau ada perkembangan akan kami sampaikan,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah