Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Keterangan Dokter RS Arga Husada Ngadiluwih saat Menangani Santri PPTQ Al Hanafiyyah Kediri

Emilia Susanti • Senin, 4 Maret 2024 | 17:50 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri – Bagaimana kondisi Bintang Balqis Maulana, 14, saat dibawa ke RS Arga Husada sekitar pukul 03.00 Jumat (23/2) dini hari lalu? Menurut keterangan dokter yang memeriksa, nadi pemuda asal Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi itu sudah tak berdenyut. Wajahnya juga pucat.

Ditemui di RS Arga Husada Ngadiluwih kemarin, dr Riski Ayu Lahwida mengatakan, Bintang tiba di RS Arga Husada sekitar pukul 04.45 (23/2). Saat tiba, wajah Bintang diketahui dalam kondisi pucat. “Banyak luka memar di tubuhnya. Saya sempat curiga tapi langsung dilakukan pemeriksaan,” kata Riski.

Pertama-tama dia memeriksa kondisi nadi yang sudah tidak berdenyut. Demikian pula dengan napasnya. “Nadi karotisnya tidak ada,” lanjut Riski sembari menyebut pupil mata Bintang juga sudah melebar maksimal.

Dari sana, Riski dan petugas kesehatan di RS Arga Husada memutuskan melakukan rekam jantung. “Hasilnya flat asitol, kami nyatakan meninggal dunia,” terang perempuan yang juga sudah diperiksa di Polres Kediri Kota sebagai saksi.

Melihat hal tersebut, Riski lantas menanyakan penyebab Bintang dilarikan ke RS oleh empat santri dini hari itu. Rupanya, mereka berasalan Bintang jatuh terpeleset di kamar mandi. “Dari rumah sakit kami hanya mencatat dan sudah menyatakan meninggal dunia. Kami rawat jenazah, kami kembalikan ke pondok,” papar Riski sembari menyebut semua catatan dokter tersebut sudah diserahkan ke polisi.

Meski dinyatakan meninggal Subuh, menurut Riski jenazah Bintang tidak bisa langsung dibawa oleh santri yang mengantar Bintang ke RS. Melainkan, manajemen RS baru bisa menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga atau pengurus pondok pesantren.

Karenanya, jenazah baru bisa dibawa sekitar pukul 11.00 Jumat (23/2) lalu atau tertahan sekitar enam jam. Kepulangan jenazah Bintang memang tidak disaksikan langsung oleh Riski karena dia pulang setelah sif malam.

Seperti diberitakan, polisi menetapkan empat tersangka dalam kasus tewasnya Bintang. Selain AF, 16, asal Bali; dan AK, 17, santri asal Surabaya; yang berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejari Kabupaten Kediri, ada dua tersangka lainnya. Mereka adalah MN, 18, asal Surabaya; dan MA, 18, santri asal Nganjuk.

Keempat pemuda itu dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kematian Bintang. Mereka melakukan penganiayaan di tiga lokasi hingga kondisi Bintang drop. Bintang dinyatakan meninggal dunia setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan di sana.

Pemicu penganiayaan maut itu beragam. Pelaku beralasan Bintang tidak bersedia diajak salat berjemaah. Kemudian, para pelaku juga emosi melihat Bintang sering mengadukan kondisi dirinya yang tidak kerasan di pesantren kepada ibunya di Banyuwangi.

Atas kasus tersebut, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri Nurwulan Andadari menyatakan prihatin. Pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian dan dinas perlindungan anak di Banyuwangi terkait progres kasus.

“Kami juga berkoordinasi dengan kepala  Kemenag Kabupaten Kediri untuk melakukan pencegahan kasus serupa supaya tidak terjadi lagi,” jelasnya sembari menyebut DP2KBP3A akan mengawal kasusnya di kepolisian.

Termasuk pengawalan pada tersangka yang dua di antaranya masih berstatus anak. “Beberapa kali kita mendengan kasus-kasus serupa yang terjadi di wilayah lain. Menurut saya sudah waktunya konsep pesantren ramah anak / ramah santri dilakukan,” jelasnya sembari menyebut pemkab sudah bekerjasama dengan sekolah. Mereka menghadirkan psikolog ke sekolah dan kecamatan.

Di luar terobosan tersebut, menurut perempuan yang akrab disapa Anda itu, komunikasi antara orang tua dan anak sangat diperlukan. Tak peduli di mana mereka menempuh pendidikan, komunikasi harus tetap terjalin. Sehingga, jika ada masalah bisa terdeteksi lebih awal.

“Anak adalah anugerah yang berharga. Jadikan mereka betul-betul berharga dengan menjaga mereka. Anak-anak harus berani menjadi pelapor dan pelopor apabila ada yang mengancam keselamatan mereka,” tandasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pembunuhan #santri #dokter