KEDIRI, JP Radar Kediri- Heru Hermawan berusaha tegar. Mencoba bersikap tabah ketika menerima kunjungan para pelayat di rumahnya yang sederhana, di tengah-tengah pasar sayur Pare lama. Wajahnya berkaca-kaca. Beberapa kali dia tak kuasa menahan. Air mata pun beberapa kali menetes.
“Terakhir bertemu tiga hari sebelum penemuan (meninggalnya Deasy, sang anak, Red),” kenangnya.
Dia pun tak menyangka bila perjumpaan itu menjadi yang terakhir kalinya. Karena setelah itu, sang buah hati tersebut ditemukan tak bernyawa. Tergeletak di depan kamar mandi rumah pacarnya.
Pria yang rambutnya memutih ini memang tak kaget bila tidak bertemu dengan anaknya hingga beberapa hari. Sebab, kebiasaan Deasy Rahmasari memang seperti itu. Sering tak pulang bila ada kegiatan yang terkait pekerjaan ataupun menginap di ruman temannya. Dia juga tak pernah pamit meskipun tak pulang ke rumah.
“Temannya kan banyak. Kadang (dia) tidur di rumah temannya. Kadang sebaliknya, temannya yang tidur di sini,” ucapnya.
Sebenarnya, ada sedikit perubahan pada sikap putrinya itu dalam beberapa hari sebelum peristiwa nahas tersebut. Deasy menunjukkan sikap berbeda dengan selalu mengucapkan salam ketika datang atau pergi dari rumah. Padahal biasanya dia senang main selonong. Termasuk pergi dan pulang tanpa pamit.
"Biasanya kalau datang itu tak pernah uluk salam. Alhamdulillah ini kok pas datang selalu salam, Assalamualaikum gitu." Bola matanya basah ketika bercerita. Sesaat kemudian air mata itu tumpah.
Pria 58 tahun ini justru senang dengan perubahan itu. Sayangnya, kegembiraan yang tidak berusia lama. Karena pada Sabtu (24/2) malam dia didatangi tetangga Andi Hermawan-pacar anaknya- dan dikabari bila Deasy ditemukan pingsan di depan kamar mandi sang pacar.
"Katanya anak saya jatuh di kamar mandi. Kondisinya tidak sadarkan diri. Saya tidak tahu kalau ternyata sudah gak ada (meninggal, Red)," kenangnya.
Sontak Heru langsung shock. Dia bergegas mendatangi rumah sang pacar, yang masih satu kelurahan tapi berbeda jalan itu. Rumahnya di Jalan Sumbing. Sedangkan tempat kejadian di Jalan Letjen Sutoyo. Atau sekitar 400-an meter jaraknya.
Sesampai di lokasi, Heru pun kaget. Karena anak gadisnya itu meninggal dengan cara tragis. Dia pun hanya bisa menangis dan menyesali kejadian itu.
Bagi keluarga, Deasy merupakan sosok yang yang mandiri. Gadis 19 tahun itu tidak pernah mau menyusahkan orang tua. Sejak lulus SMA langsung mencari kerja.
"Memang dia itu mandiri. Ulet juga. Kerjanya rajin," kenang Heru sembari menyebut bahwa Deasy bekerja di pabrik pertanian PT BISI.
Tidak hanya itu, Deasy juga sangat sayang kepada keponakannya. Anak dari kakak-kakaknya. Tidak jarang membelikan jajan ataupun mengajak main dua anak dari kakak-kakaknya.
Deasy juga dikenal supel. Gampang berteman meskipun orang itu baru dia kenal. Temannya pun juga banyak. Hal itulah yang juga membuat keluarga tidak menyangka bahwa Deasy meninggal karena dibunuh.
"Tetangga juga kaget semua, kok bisa (meninggal dibunuh)? Karena tidak menyangka kalau Deasy bisa punya musuh," ucap Heru.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah