Aksi teror ini terjadi Sabtu dini hari (19/11), sekitar pukul 01.00. Lokasi pelemparan berada di jalur Kediri-Pare. Tepatnya di Desa Adan-Adan. Jalur ini memang paling sering menjadi tempat aksi teror pecah kaca mobil.
“Sepeda motor pelaku melaju zig-zag. Setelah dekat, orang yang ada di boncengan melempar batu ke arah mobil,” terang Gatut, 48, pengemudi mobil yang jadi korban pelemparan.
Saat itu warga Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem tersebut mengendarai Daihatsu GranMax nopol W 14010 XE. Di dalam mobil warna putih itu ada 10 pemain voli.
Masih menurut Gatut, batu seukuran kepalan tangan tersebut tak mengenai kaca mobil. Namun menimpa bumper depan sisi kanan. Membuat bumper tersebut sampai lepas dari bodi mobil.
Bagi Gatut, kejadian itu merupakan kali kedua menimpa dirinya. Juga dengan mobil yang sama. Kejadian pertama terjadi Juni lalu. Waktu itu batu bisa mengenai kaca mobil.
“Saya rugi Rp 2 juta waktu itu,” akunya.
Menariknya, lokasi pelemparan pertama dan kedua sama. Yaitu di dekat SPBU Desa Adan-Adan, dari sisi utara. Di tempat ini penerangan jalan umum (PJU) memang tidak ada. Saat kejadian suasana juga sepi. Apalagi waktu itu turun gerimis.
Apakah Gatut bisa mengenali pelaku? Dia mengaku tak bisa mengenali pelaku. Sebab, selain berlangsung tiba-tiba, cuaca gerimis membuat pandangan juga terhalang.
“Saya tidak bisa mengenali dengan jelas ciri-ciri pelaku. Juga jenis kendaraan yang digunakan, apalagi platnya. Yang jelas mereka masih muda,” pungkasnya.
Gatut mengaku usai kejadian hendak melapor ke Polsek Gurah. Namun, dia mengatakan saat itu kondisi polsek tertutup sehingga dia meneruskan perjalanan.
Terpisah, Kasatreskrim Polres Kediri AKP Rizkika Atmadha saat dikonfirmasi terkait kejadian tersebut mengatakan sudah membentuk tim khusus. Yang merupakan gabungan Polsek Gurah, Ngasem, dan Pagu. Tim khusus ini didampingi oleh reserse mobile (Resmob) untuk memburu pelaku.
“Saat ini kita masih lakukan penyelidikan dengan berbagai upaya. Sekitar 40 anggota di dalam tim khusus,” dalihnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah