“Ku jemu dengan hidupku, yang penuh liku-liku, bekerja di malam hari, tidur di siang hari, terasa berat, terasa berat, beban hidupku, yeah…” Itu lirik dari lagu lawas milik kelompok legendaris Koes Plus. Mungkin, kalau generasi zaman now kayak saiki, ada yang denger lagu itu dinyanyikan band Gigi. Utawa, pernah pula dinyanyikan grup Gugun and Blues Shelter.
Eit, tapi, di kisah ini, lagu itu cocok dengan nasibnya Kang Sudrun kali ini. Urip sak bendinane pria yang tinggal di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri persis seperti yang digambarkan lagu berjudul ‘Jemu’ itu. Sebagai pelayan di sebuah warung makan, dia baru mulai ‘berdinas’ sore hari hingga selesai dini hari.
Sebenarnya, meskipun ora pati seneng, tapi Kang Sudrun ya gak pati mempermasalahkan penggaweannya itu. Lha wong adanya ya itu yang bisa dia dapat setelah di-PHK dari kerja di pabrik.
“Bayarane mung sithik, nanging timbang aku nganggur ya tak lakoni wae,” ucap Kang Sudrun.
Maklum ae, lelaki ini sudah punya gandengan, Mbok Ndewor. Jadi dia harus rutin memberikan uang belanja. Kalau tidak, ya jelas berabe.
Masalahe, Kang Sudrun masih manggon nang omahe maratuwane. Nah, ternyata, persoalan kerja di malam hari dan tidur di siang hari itu jadi masalah bagi keluarga sang istri. Kang Sudrun selalu disindir ketika terpaksa masih tidur sementara anggota keluarga lain wis pada melek.
“Wong mulih kerja ya wis parak isuk, mesti wae lek isuk ya isih ngantuk dan tak gawe tidur,” sungut Kang Sudrun, berdalih pada tabiatnya yang selalu telat bangun.
Sebagai istri, Mbok Ndewor sakjane ora mempermasalahkan. Nanging, beda dengan orang tuanya. Sang mertua ini menganggap Kang Sudrun males. Mereka sering mengeluarkan sindiran. Bahkan berlanjut gegeran segala, peh!
Lama-lama, Kang Sudrun judek. Dia ora betah di rumah mertuanya. Pilihannya minggat, mulih nang omahe wong tuwane dewe.
“Sapa sing betah urip kaya ngunu. Mesti disemoni lek turuku sampek awan. Aku kan ya butuh istirahat,” gerutunya.
Nah, karena long distance seperti itu, hubungan dengan Mbok Ndewor jadi terpengaruh. Komunikasi semakin berkurang. Lama-lama, jarak keduanya kian renggang. Apalagi sang istri juga emoh diajak tinggal di rumah orang tuanya. Jadinya nggak jelas arah hubungan mereka.
“Aku mung isa pasrah. Iki jek tas tak daftarkan pegatan nang pengadilan,” ucap Kang Sudrun sambil membawa segepok berkas di map yang dikempitnya. (ica/fud)
Editor : adi nugroho