Boscu asal Ngronggot ini paling suka nonton MotoGP. Valentino Rossi adalah rider idolanya. Sejak kecil, dia bercita-cita akan tampil di MotoGP. "Ingin membanggakan orang tua dan mengharumkan Indonesia," katanya.
Sayang, cita-cita Boscu itu hanya sebatas mimpi. Dia tidak pernah ikut kejuaraan balap atau berlatih menjadi rider profesional. Tidak adanya sirkuit di Nganjuk membuat Boscu hanya bisa mengasah skill nya di jalan umum. Otomatis, berbahaya. Bahaya bagi Boscu sendiri dan pengguna jalan yang lain.
Keinginan Boscu untuk menjadi The Next Valentino Rossi juga tidak mendapat dukungan orang tuanya. Tidak ada pembalap Indonesia yang pernah tampil di MotoGP. Biaya juga tidak punya. Jangankan untuk membeli motor balap seperti yang dikendarai Rossi. Membeli sepeda motor matic saja, orang tua Boscu harus kredit. Setiap bulan, mereka harus mencicil. Terkadang kena denda karena cicilannya terlambat. "Gak usah aneh-aneh. Sekolah saja sing pinter," ujar Mak'e Boscu saat menasihati.
Boscu hanya diam saja mendengarkan nasihat ibunya. Dalam hati, dia tetap tidak setuju. Dia ingin jadi rider.
Namun, Boscu tidak berani membantah. Takut dimarahi. Takut dianggap anak durhaka.
Karena itu, saat ngabuburit, Boscu pamit ke ibunya untuk nongkrong bersama teman-temannya. Lokasinya adalah tepi sawah desa. Karena di sana, udaranya segar. Cocok untuk menunggu waktu berbuka puasa.
Saat pamit itu, Mak'e Boscu setuju. Dia mengizinkan.
Namun ternyata Boscu berbohong. Ngabuburitnya bukan nongkrong di tepi sawah. Namun, dia mau uji nyali ikut balap liar.
Bersama teman-temannya, Boscu segera berangkat ke arena balap liar. Yaitu, jalan desa yang sepi. Di sana, sudah ada puluhan remaja. Mereka bersiap untuk balap liar dan menjadi suporter. Boscu sendiri sudah siap menjadi Rossi Sukomoro.
Beruntung, polisi mengetahui. Sebelum balap liar dimulai, petugas datang. Polisi menangkap belasan remaja dan mengamankan sepeda motor. Boscu termasuk salah satunya.
Kabar Boscu tertangkap polisi akhirnya didengar ibunya. Dengan masih memakai daster, Mak'e Boscu mendatangi arena balap liar tersebut. Boscu dijewer. "Jarene ngabuburit kok malah balapan," ujar Mak'e Boscu sambil menangis.
Tak terima dibohongi, Mak'e Boscu menangis di tepi jalan. Dia duduk sambil beberapa kali mengelus dada. Boscu yang melihat ibunya menangis, akhirnya ikut menangis. "Kapok aku Mak," ujar Boscu. (wib/tyo)
Editor : adi nugroho