Ada-ada saja ulah si Sudrun ini. Driver ojek online (ojol) ini sering menggratiskan tarif layanan. Alias, si pemesan ora perlu mbayar ongkos. Bisa langsung ngacir begitu turun dari jok sepeda motor.
Wah, baik hati benar si bang ojol ini? Eit, tunggu dulu. Ternyata, layanan gratis itu nganggo ‘syarat dan ketentuan’. Hanya khusus untuk yang berstatus janda. Plus, berbodi bahenol dan bertampang cantik. Peh, lek ngene jenenge bukan baik hati, tapi genit dan mata keranjang kuwi!
Ya jangan salahkan Mbok Ndewor kalau kemudian dia cemburu berat. Wanita yang beralamat di Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri ini benar-benar kuciwa, eh, kecewa berat melihat polah suami. Tak sekali dua kali dia menerima bisikan, suaminya nggratisne biaya ngojol alias ngojek online-nya!
“Harusnya ngojek kan niat nggolek duwit kangge keluarga. Tapi iki ora, malah nggolek kesenengane dewe ae,” gerutu Mbok Ndewor.
“Lek ana penumpang ayu malah digratisno. Niate jare pingin kenalan,” omelnya lagi.
Sudrun terjun menjadi driver ojol sejatinya sudah lama, tiga tahun. Setelah dia terkena pemutusan hubungan kerja dari perusahaan tempatnya bekerja. Dulu, lelaki yang sudah membina rumah tangga dengan Mbok Ndewor selama 10 tahun ini bekerja di Sidoarjo. Di satu perusahaan yang cukup ternama.
Saat itu bayaran Sudrun juga oke punya. Membuat roda ekonomi keluarganya berjalan sangat stabil. Mampu membiayai hidup yang juga diwarnai dengan dua anak ini.
Sayangnya, tiga tahun lalu kabar buruk datang. Dia terkena PHK. Tak pelak, Sudrun pun harus pontang-panting mencari fulus. Beberapa kali nglamar penggawean di pabrik tapi belum kesampaian. Tak satupun nyantol. Akhirnya, pilihan terakhir yang diambil. Dia menjadi abang ojol.
“Tahu melok nyales, nguli, lan iki sing terakhir, ngojek,” terang Mbok Ndewor, menceritakan upaya suaminya yang sebenarnya tak kenal lelah dalam menghidupi keluarga.
Kenapa ngojek? Menurut Sudrun, pekerjaan ini punya waktu fleksibel. Isa disambi. Hasile juga bisa dirasakne langsung. Apalagi, tak sedikit tetangganya yang menggunakan jasanya. Sebab, tempat tinggalnya agak jauh dari jalan raya.
Awal jadi driver ojol, kehidupan Sudrun masih biasa-biasa. Meskipun pas-pasan tapi bisa memenuhi kebutuhan. Keluar pagi saat orang berangkat kerja atau ke pasar, Sudrun sudah pulang di tengah hari.
Sudrun juga sudah punya pelanggan tetap. Yang rutin minta diantar tanpa menggunakan aplikasi. Ini karena dia dikenal sebagai tukang ojek yang ramah.
Sayangnya, Sudrun bahkan terlalu ramah. Apalagi dengan makhluk yang namanya perempuan, plus cantik. Dia sering menggratiskan biaya bila yang menumpang masih muda dan berparas menarik.
Tentu saja, hobi Sudrun itu bikin Mbok Ndewor cincing-cincing rok. Marah sejadi-jadinya.
“Ya mesti ae aku ngamuk. Wong ngojek iku harusnya ya nggolek duwit, dudu nggolek wadonan,” semprotnya.
Darah di kepala Mbok Ndewor kian mendidih. Apalagi banyak yang ngrasani, Sudrun terlalu genit. Terbaru, dia ngonangi bojone bergenit ria dengan wanita tetangga desa yang berstatus janda.
Repotnya, si janda itu yang justru bermulut ember. Bercerita mrana-mrene yen ngojek dengan Sudrun tak pernah bayar. Akhirnya ya terdengar di telinga Mbok Ndewor. Sudrun pun tak bisa berkutik. Apalagi, di hape-nya masih ada pesan pendek dari si janda itu. Waduh, dasar lelaki buaya. (ica/fud)
Editor : adi nugroho