Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sewu Janji, Sewu Blenjani

adi nugroho • Kamis, 24 Maret 2022 | 18:28 WIB
sewu-janji-sewu-blenjani
sewu-janji-sewu-blenjani


Janji adalah utang. Nah, bila janji tak ditepati itu sama artinya dengan utang yang dikemplang. Tentu akan membuat marah dan kecewa. Tak peduli, yang memberi janji itu adalah suaminya sendiri.


Itu pula sing dirasakne Mbok Ndewor kali ini. Warga Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri ini merasa Sudrun, sang suami, hanya sosok yang bisanya mengobral janji. Giliran menepati, tak pernah terbukti.


“Lambene lamis, isane mung blenjani janji ae,” sungut Mbok Ndewor, sambil bibirnya mecucu. 


Paling anyar, Sudrun ngaku pinjam hape sang istri. Bukan untuk digunakan ber-WA-an, tapi malah akan dijual. Dia lagi budu alias butuh duwit.


“Mengko tak ganti sing luwih apik,” rayu Sudrun ke istrinya.


Mendengar janji sang suami, Mbok Ndewor langsung melengos. Membuang muka. Dia sangat hapal dengan tabiat suaminya.


“Mesti ora ditepati maneh, wong tukang mbual,” gerutunya sembari pergi meninggalkan sang suami.


Soal janji-janji yang loss dol itu, Mbok Ndewor sudah merasakan lama. Sejak awal menikah tiga tahun lalu. Sudrun tak pernah memanjakannya. Yang ada justru kisah sebaliknya, dia harus hidup pas-pasan. Mengandalkan uang belanja suami yang pas-pasan.


Hidup setelah menikah ternyata tak seindah bayangan kala masa pacaran. Sudrun dan Mbok Ndewor sempat menjalin kasih selama setahun. Keduanya saling kenal karena teman sepabrik. Sudrun bagian mekanik, sedangkan Mbok Ndewor bagian produksi. Seringnya mereka bertemu membuat benih cinta pun bersemi. Akhirnya, jenjang pernikahan yang dipilih.


Nah, setelah menikah, Mbok Ndewor memilih leren dari penggawean. Mikire, mengabdikan hidup untuk keluarga. Melayani sang suami dengan sepenuh hati.


Usai menikah, pasangan ini masih tinggal bersama orang tua Sudrun. Maklum, karena yang bekerja hanya satu orang, penghasilan pun masih pas-pasan.


Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak, ketika pandemi Sudrun terkena PHK. Untung, dia masih bisa mencari kerja. Kali jadi satpam di toko emas. Mung, gajine luwih sithik dibanding ketika bekerja di pabrik.


“Tentu saja tidak cukup ketika ada pengeluaran mendadak. Seperti ada yang sakit,” keluh Mbok Ndewor.


Nah, suatu saat, Sudrun sangat butuh uang. Dia pun meminta izin menjual hape istrinya. Awalnya, Mbok Ndewor keberatan. Sebab,  hape itu satu-satunya hiburan sebagai istri yang tinggal di rumah. Membuatnya bisa berkomunikasi dengan teman-teman lamanya.


Tapi, rayuan Sudrun lebih kuat. Dia berjanji membelikan lagi hape yang lebih bagus.


“Awale ya ora percaya, tapi dek’e terus ngumbar janji nukokne sing anyar, sing luwih apik,” kata Mbok Ndewor.


Apa lacur, janji tinggal janji. Seminggu, sebulan, hingga berbulan-bulan, janji itu tak kunjung ditepati. Ini membuat Mbok Ndewor mati gaya.


Dia pun berusaha nagih janji pada bojone. Tapi, apa kata Sudrun?


“Wah, tuku hape pada ambek pemborosan,” kilahnya.


Mbok Ndewor jelas kecewa. Menambah luka karena banyak janji Sudrun yang tak pernah ditepati. Seperti janji ngontrak rumah sendiri, janji jalan-jalan, sampai janji beli baju baru.


“Kabeh kok diblenjani. Masiya ekonomi sulit, kan kudune gelem nabung ge nyenengne bojo,” semprot Mbok Ndewor pada suaminya yang hanya manggut-manggut.


Tak tahan, Mbok Ndewor pun masuk kamar. Mengepak baju miliknya. Kemudian minggat, dan menggugat cerai ke pengadilan agama. Peh, nasib wong lek gambang obral janji tapi ora nate menuhi ya ngunu kuwi. Mangkane, ora usah gampang janji Drun…Sudrun. (ica/fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #pasutri #kediri #ekonomi #info kediri #mbok ndewor #perceraian #info terkini #sudrun #berita kediri #peh