Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mami Pijat Pliket Makin Kuat Menjerat

adi nugroho • Kamis, 24 Maret 2022 | 17:06 WIB
mami-pijat-pliket-makin-kuat-menjerat
mami-pijat-pliket-makin-kuat-menjerat

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Keinginan Mbake Pijat Pliket (bukan nama sebenarnya, Red) pensiun tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi. Yang pertama, terapis pijat pliket sulit mendapatkan calon suami yang mau menerima apa adanya. Tamu-tamu yang datang ke tempat pijat pliket mayoritas sudah berkeluarga. Mereka enggan menikahi Mbake Pijat Pliket. “Banyak yang mau menjadikan istri simpanan saja,” keluh terapis asal Kota Batu yang praktik di Kabupaten Nganjuk.


Kedua, Mbake Pijat mengaku jika dia dan teman-temannya juga sulit mendapat restu dari orang tua dan keluarga calon suami. Saat mereka mengetahui pekerjaannya sebagai tukang pijat pliket, rata-rata langsung menolak. Apalagi, Mbake Pijat juga sudah berstatus janda dan memiliki anak. “Ini yang jadi persoalan kami tidak segera berhenti memijat,” keluhnya.


Selain dua persoalan di atas, ternyata ada lagi halangan yang dialami Mbake Pijat bisa keluar dari dunia hitam. Mereka sulit lepas dari jeratan Mami Pijat Pliket (bukan nama sebenarnya, Red). Setiap hari, Mami Pijat Pliket terus merayu agar mau memijat dan memberi pelayanan pliket ke tamu. Alasan, bisa kaya dan bahagia karena mendapat uang banyak menjadi senjata Mami Pijat Pliket merayu. Ini dilakukan karena setiap tamu yang datang, Mami Pijat Pliket selalu mendapat bagian. Tak tanggung-tanggung, ada Mami Pijat Pliket yang mendapat jatah separo dari uang yang didapat Mbake Pijat Pliket. Jadi, jika satu Mbake Pijat Pliket mendapat tamu rata-rata delapan orang dalam sehari atau Rp 300 ribu maka Mami Pijat Pliket akan mendapatkan Rp 36 juta dalam sebulan. Jumlah itu akan bertambah banyak karena di setiap tempat pijat memiliki terapis lebih dari satu orang. “Saat kami minta berhenti kadang juga digandoli dengan alasan nanti bingung tidak punya uang,” ujarnya.


Bujuk rayu Mami Pijat Pliket ini juga membuat Mbake Pijat Pliket terbuai. Karena itu, dia tetap praktik di Kota Angin. “Iya mau bagaimana lagi. Saya juga butuh uang,” ujarnya.


Sementara itu, Mami Pijat Pliket mengatakan, jika Mbake Pijat Pliket itu adalah ‘anak-anaknya’. Dia berdalih meminta jatah dari uang yang didapat bukan karena menjadikan Mbake Pijat Pliket sebagai sapi perah. Namun, dia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan operasional tempat pijatnya. “Untuk sewa rumah, biaya bersih-bersih dan keamanan juga,” katanya.


Lalu berapa jumlah ‘anak-anak’ Mami Pijat Pliket? Wanita berusia 50 tahun ini mengaku jika dia memiliki lima terapis. Namun, saat wartawan koran ini berkunjung pada Rabu malam (16/3), hanya ada dua Mbake Pijat Pliket. Sedangkan, tiga temannya sedang cuti ke Batu.


Mami Pijat Pliket mengatakan, sebelum menjadi pengelola tempat pijat pliket, dia juga seorang terapis. Namun, karena usianya sudah tua dan tidak seksi lagi, maka dia akhirnya jadi Mami Pijat Pliket. “Saya juga selalu menawari tamu untuk saya pijat tetapi tidak ada yang mau,” ujarnya.


Di dunia pijat pliket, wanita asal Malang ini mengatakan, usia, wajah dan tubuh menjadi yang utama. Jika usia sudah senja dan tidak cantik lagi maka tamu akan enggan memilihnya. “Kebanyakan itu milih yang masih mbak-mbak. Meski antre iya tetap mau,” ungkapnya.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #radar nganjuk