Pepatah bilang, hidup itu ibarat roda yang berputar. Kadang nang isor, kadang nang nduwur. Bila di posisi atas, kebahagiaan yang terasa. Nah, giliran di bawah, ini yang paling sering membuat orang merasa susah.
Pengibaratan itu cocok untuk Sudrun. Dulu, kehidupannya dengan Mbok Ndewor penuh dengan keceriaan. Di sisi ekonomi, keluarga yang tinggal di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri ini serba berkecukupan. Jalinan asmara pun tak ada aral. Penuh kemesraan.
“Duwit memang ora melimpah. Cukup kangge mangan lan ngopeni anak. Nanging ora tahu kangelan utawa sampek ngutang-ngutang,” kenang Mbok Ndewor.
Mbok Ndewor pun merasa hidup tenang. Tak pernah kesulitan uang meskipun sing kerja mung Sudrun. Dia bisa mengurus keluarga dengan baik. Ngladeni anak lan bojo.
Sayang, kehidupan seperti itu hanya berlangsung sebentar. Tiga tahun lalu Sudrun menjadi korban PHK. Kenyataan itu membuat keluarga kecil ini langsung kebingungan. Maklum, Sudrun adalah satu-satunya tulang punggung keluarga.
Sebagai pelaku utama, Sudrun sempat galau berbulan-bulan. Seperti orang yang senewen, dia tak melakukan apa-apa. Pengeluaran sehari-hari mengandalkan uang pesangon yang, sudah pasti, habis dalam beberapa bulan itu.
Melihat sang suami patah semangat, Mbok Ndewor terus memompa motivasi. Berharap Sudrun segera mencari kerja demi menyelamatkan kelangsungan asap dapur. Lama-lama, Sudrun pun sadar. Kemudian, dia cincing-cincing klambi, bersiap mencari kerja lagi.
Sayange, ora gampang nggolek penggawean. Apalagi kerja di pabrik. Maklum ae, umure Sudrun sudah tak muda lagi. Sudah tak produktif. Mesti ae dia kalah bersaing dengan yang muda-muda.
Akhirnya, merantau ke Bali jadi pilihan. Ada teman Sudrun yang buka usaha persewaan mobil di Pulau Dewata. Dia mengajak Sudrun bekerja bersamanya.
Semula, keputusan merantau diambil dengan berat hati. Sudrun merasa abot jauh dari keluarga. Sementara Mbok Ndewor, sebenarnya juga demikian.
“Tapi ya saya ikhlas. Asal bisa dapat uang untuk menghidupi keluarga,” ucap sang istri.
Singkat cerita, Sudrun pun bekerja di Bali. Tentu saja jarang pulang. Paling dua atau tiga bulan sekali. Hemat biaya jadi alasan utama. Toh, yang penting kiriman uang rutin datang, demikian pikir Mbok Ndewor.
Nah, ketika waktunya pulang, Mbok Ndewor ternyata merasa janggal. Suaminya terlihat gemuk dan makin terawat. Bukannya senang, dia justru merasa penasaran.
“Apa ada yang merawat ya? Ketoke bahagia dan subur badannya,” tanya Mbok Ndewor dalam hati.
Dasar wanita, instingnya ternyata kuat juga. Dia segera mengumpulkan informasi. Tentu soal keseharian sang suami di Bali. Tapi, tak ada yang mau memberitahu.
Sampai suatu ketika, pas pulang ke rumah, Sudrun keluar tanpa membawa handphone. Nah, saat melihat handphone suaminya tergeletak, naluri detektif Mbok Ndewor mulai berbunyi ngik…ngik…ngik. Dia pun memeriksa isi ponsel itu.
Benar juga, kecurigaannya selama ini seakan terjawab. “Saya banyak melihat foto perempuan yang sama di handphone bojoku. Foto berdua ya ana. Posenya mesra pisan,” ujarnya geregetan.
Sontak, dia langsung menginterogasi sang suami. Yang seperti kerbau dicocok hidung karena tertangkap basah. Sudrun ora isa selak. Dia mengkau punya wanita idaman lain.
Pengakuan yang bikin dunia terasa gelap di mata Mbok Ndewor. Dia pun menyeret suaminya ke pengadilan agama. Meminta dirinya dicerai karena tak kuat melihat suami punya simpanan. Peh, ya iki jenenge necis tapi mambu amis!(ica/fud)
Editor : adi nugroho