Sudrun benar-benar orang lugu. Orang Jawa ada yang menyebut utun. Sampai-sampai tak bisa membedakan seorang wanita masih gadis atau perawan. Baru ketahuan ketika sudah dua tahun menikah, peh!
Kisah bermula ketika pria asal Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri ini dipaksa segera nggolek pasangan. Maklum, umure wis nyandak kepala telu. “Saking nggethune lek nyambut gawe, sampek ora eling rabi,” begitu keluhan orang tua Sudrun.
Sabendina, Sudrun terus ditakoni kapan menikah. Bila pulang ke rumah, diminta harus bawa calon. Yang bikin hati Sudrun luluh, ketika ayahnya berpesan agar tak lama-lama menjomblo. “Mumpung wong tuwa isih ana. Isa ndeleng anake lungguh nang kuade,” ucap sang ayah.
Permintaan sang ayah itu membuat dada Sudrun bergetar. Takut bila itu jadi permintaan terakhir sang ayah. Sontak dia langsung nggethu mencari pasangan hidup.
Bak gayung bersambut, Sudrun ketemu Minthul. Wanita yang lebih muda beberapa tahun darinya. Wajahnya ayu. Pertama bertemu Sudrun sudah mendapat firasat bagus. “Apa iki wong wadon sing dikirim Tuhan gawe aku?” batinnya kala itu.
Tanpa ba bi bu lagi, Sudrun langsung tancap gas. Dia mengajak Minthul menemui orang tuanya. Dengan mongkok ati mengenalkan sebagai calon istri. “Sapa sing ora seneng, lha nggolek wong wedok sing apik yo susah zaman saiki. Untunge ada Minthul,” ucapnya girang.
Tak pakai lama, Sudrun-Minthul pun bersanding di pelaminan. Setahun sebagai manten anyar tak ada riak yang menerpa. Baru ketika masuk di tahun kedua, Sudrun merasakan sesuatu yang janggal. Sebab, Minthul mulai meminta uang belanja lebih besar dari biasanya.
“Kangge apa duwit akeh-akeh, wong durung duwe anak?” tanya Sudrun dalam hati.
Akhirnya, penyebab sikap Minthul itu terkuak juga. Sang istri mengaku uang lebih tersebut untuk biaya dua anaknya hasil perkawinannya yang pertama.
Sontak, kepala Sudrun langsung nyut-nyutan. Bintang berjumlah tujuh seperti mengelilingi kepalanya itu. Dia pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata, istri yang dicintainya adalah janda beranak dua.
Meskipun awalnya tresna, tapi perasaan merasa tertipu membuat hubungan Sudrun dan Minthul mulai renggang. Pertengkaran sudah menjadi menu sehari-hari. Di satu sisi Sudrun menyalahkan istrinya karena tidak bercerita sejak awal. Sementara Minthul berdalih suaminya tak pernah bertanya. Sehingga dia pun tak ada alasan untuk bercerita.
Akhirnya, Sudrun membawa perkara ini ke pengadilan agama. Meminta para hakim mengabulkan talaknya pada sang istri. “Dua tahun dia nggak crita apa-apa. Sapa sing ora getun? Dua anak lagi! Untung aku durung duwe momongan ambek deke,” ujar Sudrun dengan bersungut-sungut. (ica/fud)
Editor : adi nugroho