Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cinta Segitiga sang Kuli Bangunan

adi nugroho • Kamis, 6 Januari 2022 | 16:59 WIB
cinta-segitiga-sang-kuli-bangunan
cinta-segitiga-sang-kuli-bangunan


Cerita tentang cinta segitiga selalu menghadirkan ironi. Nyaris selalu berakhir duka. Tak peduli menghinggapi orang kaya atau orang miskin, hadirnya orang ketiga sering menghancurkan biduk rumah tangga.


Tak percaya? Coba simak kisah Mbok Ndewor ini. Wanita 40 tahun yang tinggal di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri ini awalnya hidup bahagia meskipun serba bersahaja.


“Bagi saya asal suami setia dan bertanggung jawab, itu sudah cukup,” ucapnya.


Ya, Mbok Ndewor terbilang wanita yang neriman. Menerima apa adanya. Tak banyak meminta karena tahu Sudrun, sang suami, hanyalah pekerja proyek alias kuli bangunan. Yang penghasilannya punya tempo. Alias tempo-tempo ada kerjaan, tempo-tempo ya menganggur.


Mbok Ndewor dan Sudrun menikah 2013 silam. Awalnya, kebahagiaan yang selalu memayungi kehidupan sederhana mereka. Mbok Ndewor selalu tersenyum meskipun Sudrun membawa pulang uang pas-pasan dari hasil nguli. Kopi nasgithel alias panas legi tur kenthel selalu dia suguhkan untuk suami tercinta setiap kali hendak berangkat kerja.


Sayangnya, suasana itu tak berlangsung lama. Seiring perjalanan waktu, angin lesus mulai bertiup. Muluk dan meliuk-liuk, membawa pergi kebahagiaan keluarga sederhana ini. Angin lesus itu berupa Sudrun yang mulai kakehan polah.


“Awalnya itu mulai sering pulang larut malam. Kemudian lama-lama pulangnya jadi pagi. Padahal kan dia kerjanya pagi sampai sore,” keluh Mbok Ndewor.


Mbok Ndewor sebenarnya masih berusaha bersabar. Tapi Sudrun justru kian nglunjak. Kelakuan buruknya kian menjadi. Sudah berani marah dan mbentak-mbentak segala.


Suatu saat, ketika Sudrun pulang larut, Mbok Ndewor menegur suaminya. Nah, teguran sayang itu dibalas dengan bentakan. Sudrun muring-muring karena merasa istrinya terlalu mengurusi urusan laki-laki.


“Lha wong aku iki bojone, takon apik-apik kok malah dibentak-bentak. Yo nangis aku,” aku Mbok Ndewor.


Tingkah menyebalkan Sudrun diperparah dengan mulai jarang memberi nafkah. Kadang, sebulan Mbok Ndewor hanya diberi Rp 100 ribu. Tentu saja, belanja yang sangat-sangat kurang. Apalagi dengan harga lombok dan telur yang masih mahal seperti sekarang ini. Kebutuhan lainnya juga bertumpuk. Dia masih harus beli susu dan popok bagi balitanya yang masih berusia dua tahun. Padahal, bayaran kuli bangunan seharinya masih Rp 100 ribu.


“Lha, duite yang lain digawe apa ae?” tanya Mbok Ndewor.


Semua protes Mbok Ndewor tak digubris Sudrun. Membuat kian hari biduk rumah tangga pasangan ini kian kacau.


Puncaknya, terjadi saat teman Sudrun sesama kuli bangunan mbisiki Mbok Ndewor. Menceritakan bahwa Sudrun ternyata punya wanita idaman lain alias WIL. Setiap hari Sudrun dan selingkuhannya selalu bermesra-mesraan.


“Setiap pulang kerja Sudrun selalu pergi berduaan,” kata Paijo, teman Sudrun, kepada Mbok Ndewor.


Informasi itu membuat Mbok Ndewor atine panas membara. Emosine memuncak sampai ubun-ubun. Dia pun melapor ke kedua orang tuanya. Atas saran wong tua itu akhirnya dia memilih minta pegat.


Kisah ini pun diakhiri dengan kepergian Mbok Ndewor ke Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Kediri. “Gugatan sudah dikabulkan. Senang akhirnya bisa lepas dari dia,” ucapnya sumringah.


Setelah lepas dari Sudrun, Mbok Ndewor sudah punya rencana bagi kelangsungan hidupnya. “Nanti aku tak ngewangi orang tua jualan bakso di rumah,” ucapnya enteng.


Ealah Drun…Sudrun, ternyata bojomu sudah tak tertarik lagi dengan baksomu, eh, dirimu yang kakean polah! (ica/fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #cinta #info kediri #mbok ndewor #info terkini #sudrun #berita kediri #peh