Kelakuan Sudrun kebangeten ruwete. Sebagai suami dia sangat tidak bertanggung jawab. Kalau biasanya seorang suami itu mengayomi istri dan keluarga, tidak demikian dengan pria asal Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri ini. Sudrun hanya mau enake sebagai suami tapi emoh sarane.
Maunya hanya memberi nafkah batin. Sedangkan nafkah lahir dikesampingkan. Selalu minta jatah tapi giliran menehi uang belanja justru selalu mangkir.
Tentu saja hal itu membuat Mbok Ndewor cenut-cenut endase. Akhirnya, hakim di pengadilan agama jua yang jadi jujugan.
“Abot nek terus-terusan ngelakoni urip kaya ngene,” keluhnya di Pengadilan Agama Kabupaten Kediri sambil membawa segepok berkas gugatan cerai.
Usia perkawinan Sudrun dan Mbok Ndewor memang baru seumur jagung, tiga tahun. Selama waktu yang belum panjang itu, Mbok Ndewor merasakan jadi istri yang lengkap hanya di tahun awal. Saat itu dia masih menerima nafkah lahir dan batin dari sang suami.
Setelah itu, mimpi buruk yang justru menghampiri. Sudrun tak lagi memikirkan uang belanja. Tak pernah dia mendapat jatah bulanan dari sang suami yang kerja di salah satu home industri pembuatan sepatu itu. Padahal, kalau urusan jatah ‘di malam yang dingin’ Sudrun jagoannya. Tidak pernah telat meminta.
Sebenarnya, penghasilan Sudrun masih mencukupi untuk menghidupi istri dan anak semata wayangnya. Mbok Ndewor juga tahu itu. Tapi entah mengapa setiap kali diminta uang belanja Sudrun hanya melengos.
Jadilah Mbok Ndewor harus kerja banting setir, eh banting tulang. Setiap ada kesempatan mendapat pekerjaan langsung disambar olehnya. Mulai dari kerja serabutan, kerja di salon, hingga akhirnya kerja di pabrik. Semuanya demi menghidupi dirinya dan sang buah hati.
“Mboh piye carane supaya anak tetep iso kecukupan gizine,” tekad Mbok Ndewor.
Ironisnya, melihat istrinya kerja banting tulang seperti itu Sudrun malah cuek bebek. Seakan-akan tidak mengusik hatinya. Dia tetap enggan menafkahi sang istri meskipun masih tinggal serumah.
Lama-lama Mbok Ndewor tak tahan juga. Dia mulai enggan melayani hasrat sang suami. Semakin lama perasaan cinta yang bertunas kala masa sir-siran pun pupus. Rasa suka pada Sudrun hilang. Berganti dengan pandangan tak simpati. Apalagi dia merasa sudah tak mampu lagi menahan beban akibat ditelantarkan suami. Taka da pilihan lain baginya selain melayangkan gugatan cerai.
Nasib anak semata wayangnya sempat jadi penghalang. Namun, setelah dia pikir masak-masak, pilihan bercerai menjadi solusi terbaik di kepalanya.
“Sebenarnya ya kasihan ndelok anak gak duwe bapak seperti ini. Tapi, piye maneh, lha wong dia juga tak ada itikad baik untuk memperbaiki,” kata Mbok Ndewor, nyentil sikap Sudrun yang sudah kelewat batas. (ica/fud)
Editor : adi nugroho