NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Warga di sekitar Pabrik Gula (PG) Lestari resah. Penyebabnya, pabrik gula satu-satunya di Kabupaten Nganjuk itu mengeluarkan debu dari cerobong asap saat giling. Debu-debu tersebut beterbangan hingga ke rumah warga. "Rumah jadi kotor," keluh M. Huda, 48, warga Desa/Kecamatan Patianrowo.
Dalam sehari, Huda mengaku harus menyapu rumahnya lebih dari dua kali. "Sehari itu bisa dua cikrak debunya," ujarnya.
Debu ini memiliki tekstur yang lembut berwarna hitam. Biasanya disebut langes atau sisa pembakaran.
Huda mengatakan, debu ini sangat mengganggu. Apalagi, dia berjualan makanan dan minuman di rumah. Debu itu juga mengotori dagangannya. "Jadi harus sering dibersihkan etalase," ujarnya.
Masalah debu ini juga membuat omzet penjualannya turun. Pelanggan menjadi enggan makan dan minum di warungnya.
Selain membuat rumah warga kotor, debu dari PG Lestari juga mengganggu pernapasan. Warga jadi kesulitan bernapas. Memakai masker dilakukan meski di rumah. "Bisa sesak napas dan batuk-batuk," ujar Huda.
Kondisi seperti ini kata Huda selalu terjadi setiap musim giling tiba. Bahkan, pencemaran ini sudah terjadi bertahun-tahun. "Kami juga sudah sering mengeluhkan masalah ini ke PG Lestari," ujarnya.
Sayang, manajemen PG Lestari belum bisa dimintai komentar terkait persoalan limbah debu. General Manager (GM) PG Lestari Marshal G. Pattiasina yang dihubungi lewat ponselnya tidak diangkap. Pesan singkat yang dikirimkan wartawan koran ini lewat WhatsApp hanya dibalas singkat. "Saya masih rapat," ujarnya.
Editor : adi nugroho