KABUPATEN, JP Radar Kediri – Seandainya saja Bibit Almuji, 59, melihat tanda yang diberikan oleh relawan penjaga perlintasan kereta api, mungkin, nasibnya tak senahas kemarin. Sayang, nasi telah jadi bubur. Warga Dusun Krajan, Desa Gonndang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung itu tak melihat aba-aba bahwa akan ada kereta melintas. Dia pun tetap melajukan kendaraannya, Isuzu Elf minibus, melintasi rel yang membentang di Jalan Merak, Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih.
Akibatnya pun fatal. Bodi minibus bernopol AG 7007 T itu segera tersambar KA Gajayana jurusan Jakarta-Malang. Terseret hingga lima meter sebelum akhirnya terlontar ke persawahan di timur rel. Terjerembab di lahan jagung yang posisinya lebih rendah sekitar dua meter dari rel kereta.
“Pengendara meninggal di lokasi. Mengalami luka robek di bagian kepala, kaki, dan tangannya patah,” terang Kapolsek Ngadiluwih AKP Iwan Setyo Budi, yang ditemui di lokasi ketika polisi tengah melakukan evakuasi korban dan memindah bangkai mobil.
Kecelakaan maut itu terjadi kemarin pagi, sekitar pukul 04.30. Saat itu Bibit hendak menjemputi penumpangnya di daerah Mojo. Mereka adalah karyawan pabrik yang akan berangkat kerja ke Tulungagung.
Perlintasan kereta yang berada sekitar 100 meter dari perempatan Branggahan ini memang rawan. Tidak memiliki palang pintu. Yang menjaga hanya relawan saja. Saat kejadian itu ada satu relawan yang berjaga.
Benturan antara mobil Elf dengan kereta yang dimasinisi Emil itu sangat hebat. Kereta yang melaju kencang membuat tabrakan yang terjadi pun sangat keras. Bodi mobil hancur. Serpihannya berhamburan. Satu pintu mobil bahkan terlempar hingga 10 meter jauhnya dari titik kecelakaan.
Sang relawan penjaga perlintasan segera melaporkan kejadian itu ke Polsek Ngadiluwih. “Sekitar pukul 05.00 WIB, tubuh Bibit yang sudah tidak bergerak didalam kendaraan langsung dibawa ke RS Gambiran,” lanjut Iwan.
Setelah mengevakuasi korban, polisi kemudian berusaha mengambil bangkai mobil. Proses penarikan bangkai mobil itu berlangsung lama. Sekitar satu jam petugas dari unit Laka Lantas Polres Kediri baru bisa menderek mobil yang sudah tak berbentuk itu.
Tak ayal, kecelakaan itu mengundang perhatian warga. Apalagi jalan tersebut merupakan jalur ramai. Menuju arah Jembatan Wijaya Kusuma. Karena itu banyak pengendara yang berhenti. Melihat proses pengambilan bangkai mobil. Beberapa ada yang melihat dari rel di atas bangkai mobil terjerembab. Ada pula yang mendekat untuk mengambil foto.
Semakin siang, warga yang berkumpul semakin banyak. Hal ini membuat petuga KA sampai memberikan peringatan. Karena akan ada kereta api yang lewat.
Sekitar pukul 08.30 WIB mobil derek tiba di lokasi. Karena medan yang terhalang rel kereta dan pembatas, membutuhkan waktu setidaknya setengah jam untuk melakukan persiapan. Untungnya tebing antara persawahan dan jalan tergolong landai. Membuat mobil mudah ditarik ke atas hingga bahu perlintasan kereta. Pukul 09.00 WIB proses pengangkatan selesai dilakukan. Hanya saja, dengan kondisi mobil yang mengalami kerusakan parah, roda sulit untuk melewati besi rel. Sehingga memerlukan bantuan peralatan. Mobil berhasil keluar dari perlintasan sekitar pukul 10.00 WIB.
Perlintasan ini tergolong rawan kecelakaan. Beberapa kali terjadi insiden serupa. “Sudah dua kali kejadian kecelakaan di sini,” kata Sutarjo, 40, warga sekitar yang melihat proses evakuasi.
Buruh tani ini mengatakan, informasi kecelakaan tersebut cepat menyebar. Tidak ada setengah jam setelah kejadian warga sudah berbondong-bondong mendatangi lokasi kecelakaan. “Kayaknya mobil ini menjemput karyawan perusahaan,” ujarnya. (ara/fud)
Editor : adi nugroho