NGANJUK, JP Radar Nganjuk–Media sosial dihebohkan dengan penemuan Reyhan, 19, kemarin pagi. Pemuda asal Padang, Sumatera Barat itu didapati linglung dan mondar-mandir di area GOR Bung Karno, Nganjuk.
Warga yang melihat kondisi Reyhan itu lantas melaporkannya ke SPKT Polres Nganjuk. Kepala SPKT Polres Nganjuk Ipda Jarwono menuturkan, Reyhan ditemukan sekitar pukul 08.00 kemarin. “Warga sempat mengantarkan dia ke Mapolsek Nganjuk Kota,” ujar Jarwono.
Di sana Reyhan hanya termenung. Beberapa pertanyaan petugas polsek tidak dijawab. Dari sana, Polsek Nganjuk Kota lantas melimpahkan Reyhan ke Mapolres.
Seperti halnya di polsek, Reyhan yang ditanyai di Mapolres juga tetap tutup mulut. Petugas lantas meminta dia menuliskan namanya agar bisa dicarikan identitas kerabatnya. “Saat diminta menulis nama, dia menulis nama ‘Rahan’,” lanjut perwira dengan pangkat satu balok di pundak itu.
Karena masih buntu, petugas mencoba mengirimkan Reyhan ke Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk. Tujuannya untuk melacak identitasnya. Serta, menyiarkan pesan di media sosial dan media lainnya.
Saat di kantor dinsos PPPA, Reyhan yang diminta menulis nama ganti menulis nama ‘Gilang’. Sebelumnya saat di Polsek Nganjuk Kota dia juga menuliskan nama ‘Ilham’. “Dia tidak bawa apa-apa. Dompet, KTP, SIM, tidak ada. Hanya membawa uang Rp 20 ribu di kantong kemejanya,” terang Jarwono.
Rupanya, setelah diantarkan ke Dinsos PPPA Nganjuk, keluarga Reyhan datang menjemput. Mereka mengaku mendapat informasi dari WhatsApp. Pamannya yang benama Jeki Herman, 30, datang ke SPKT Polres Nganjuk.
Setelah membeberkan kronologinya, petugas langsung mengambil Reyhan dari Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk. Ternyata benar, Reyhan juga mengenali keluarganya itu.
Dari keterangan keluarga, Reyhan memang menderita depresi. Sehingga terlihat linglung dan susah berkomunikasi. Ia menderita penyakit tersebut sejak dirinya SMP. Menurut Herman, Reyhan sebenarnya berasal dari Padang, Sumatera Barat. Ia dititipkan ke Nganjuk untuk tinggal bersama Herman sejak 10 bulan yang lalu. “Dibawa ke Nganjuk karena hendak menjalani perawatan dari penyakitnya,” pungkas Jarwono.
Editor : adi nugroho