Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Operasi Anang Soetomo di RS Kabupaten Kediri: Bukan Ganti Kelamin

adi nugroho • Rabu, 10 Februari 2021 | 21:40 WIB
operasi-anang-soetomo-di-rs-kabupaten-kediri-bukan-ganti-kelamin
operasi-anang-soetomo-di-rs-kabupaten-kediri-bukan-ganti-kelamin

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Operasi Anang Soetomo memang sudah tuntas. Hanya saja, keberhasilannya masih menunggu besok Kamis (11/2). Jika hasilnya bagus, maka Anang tinggal pemulihan. Jika tidak, maka harus dilakukan operasi ulang.


“Menunggu hari Kamis, saat buka perban,” terang Dodo Wikanto, dokter Spesialis Urologi dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kediri (RSKK) kemarin (9/2). 


Diungkapkan Dodo kalau nantinya akan dilakukan pengecekan kondisi kulit. Khususnya pada area yang dilakukan operasi. “Kalau warnanya hitam, kulitnya mati. Bagus itu kalau tetap merah,” terang dokter pengoleksi mobil antik itu. Jika ternyata kulitnya hitam maka harus dilakukan operasi lagi. “Mudah-mudahan kulitnya tidak ada yang mati,” ungkapnya. 


Dari pemeriksaan hari ini, remaja 21 tahun asal Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen ini mengaku harus tetap memakai selang kateter kurang lebih 10 hari sampai dua minggu. Alat bantu untuk mengalirkan air kencing itu baru dapat dilepas jika saluran kencing sudah lancar. Jika sudah bagus maka operasi dipastikan berhasil dan tidak perlu melakukan operasi lagi. 


Kondisi sebaliknya, jika dalam rentang waktu tersebut terjadi kebocoran saluran kencing, Anang harus menjalani operasi lagi. Itu baru bisa dilakukan enam bulan kemudian. 


Dodo juga menegaskan kalau operasi yang dilakukannya Senin (8/2) lalu bukanlah operasi ganti kelamin. Sebab, Anang yang dulunya bernama Ani Kasanah ini memang laki-laki dan memiliki alat kelamin laki-laki meski ada kelainan. “Ini kan bukan transgender,” tandasnya. 


Hanya saja, diakui Dodo kalau operasi yang dilakukannya selama 1,5 jam ini termasuk kategori berat. Sebab, Anang menjadi pasien paling dewasa yang ditanganinya untuk kasus hipospadia skrotum difidum dan undesensus testis dextra. “Paling besar umur 11 tahun,” tutur dokter ramah ini. Sebenarnya, lanjut Dodo, pasien dengan kasus seperti Anang idealnya dioperasi 5 tahun yaitu sebelum memasuki usia dewasa. 


Tidak hanya karena umur yang sudah dewasa, Dodo menuturkan kalau kesulitan operasi karena jarak pembuatan saluran kencing yang baru dan panjang. “Saya upayakan yang terbaik. Semoga hasilnya bagus,” katanya.


Untuk diketahui, Anang Soetomo mengalami kelainan bawaan sexual ambiguity sejak dilahirkan 1999 silam. Itu mengharuskannya operasi tahap satu dan dua sejak 2015 dan 2016 di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo Surabaya. Namun, operasi ketiga belum berhasil terealisasi. Terkatung-katung hingga empat tahun. 


Sampai akhirnya, pada 2021 ini, Anang berhasil menyelesaikan tahap operasi lanjutan yaitu repair scrotum dan urethroplasty. Tahapan itu sebenarnya direncanakan akan berlangsung dua kali, tetapi, setelah dilakukan pengecekan ulang, ternyata bisa langsung dilakukan dalam satu kali tahapan. Itu pun operasi berhasil dilakukan selama 1,5 jam. (c2/dea)




Dirawat di Ruang Laki-Laki


Acungan jempol patut diberikan pada pelayanan RSKK. Meski kartu identitas Anang Soetomo masih atas nama perempuan yaitu Ani Kasanah, petugas menempatkan remaja 21 tahun ini bergabung dengan pasien laki-laki.


Memegang Kartu Indonesia Sehat (KIS), penderita kelainan bawaan sexual ambiguity ini ditempatkan di Ruang Seruni. Di ruangan ini dibagi menjadi dua kelompok antara laki-laki dan perempuan. 


Anang berada di ruangan kelas 3 yang berisi sebelas ranjang. Tapi, dari jumlah itu, yang terisi hanya enam pasien laki-laki. Anang yang didampingi oleh ibunya Tutik mengaku senang bisa melewati operasi dengan baik.  “Alhamdulillah, lega. tetapi perih dan dan panas,” ungkapnya. 


Saat dikunjungi kemarin (9/2), di tangan Anang masih terpasang infus dan kateter. Dia mengaku akan bertambah lega jika hasil operasinya benar-benar bagus sehingga tidak perlu operasi lagi.


Sementara Tutik mengaku harus terus mendampingi anak ketiganya itu. Seperti operasi yang pernah dijalani Anang di Surabaya, Tutik terus berada di samping Anang. 


Perempuan berperawakan kurus itu berjaga sejak semalam untuk menemani Anang. Dengan telaten, Tutik yang didampingi menantunya itu pun membantu Anang menghilangkan rasa nyeri dan panas. “Kulo kipas-kipas, larene sanjang panas (Saya kipas, anaknya bilang panas, Red),” katanya sambil terus mengipas-ipas anaknya. (c2/dea) 



Kondisi Anang Pascaoperasi



Dirawat di Ruang Perawatan Kelas 3 yaitu Ruang Seruni 


Anang ditempatkan di bagian laki-laki


Masih harus menggunakan bantuan kateter selama 10 hari hingga 2 minggu


Tunggu pembukaan perban pada hari Kamis (11/2). Jika bagus tidak perlu dilakukan operasi ulang


Diperkirakan bisa pulang pada hari Kamis (11/2). 


Kontrol untuk pengecekan kondisi pascaoperasi dan pelepasan kateter diperkirakan paling cepat pada hari Senin (22/2). 

Editor : adi nugroho
#kediri #ktp