Fenomena balap liar seakan menjadi bara yang akan terus menggelora di dalam nadi muda-mudi Kediri. Meski telah berkali-kali dilakukan razia oleh pihak kepolisian, namun para penikmatnya seakan tidak jera. Bahkan, semakin seru bisa bermain “kucing-kucingan” dengan petugas.
Salah satu penikmat aksi balap liar tersebut adalah Cuplis (nama samaran). Ia mengatakan bahwa fenomena tersebut telah berlangsung lama di Kota Kediri. Pemuda 29 tahun tersebut bahkan mengaku sejak remaja mengikuti tren balap motor liar.
“Sampai sekarang pun masih ada,” ujar Cuplis kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin.
Warga salah satu kelurahan di Kota Kediri tersebut mengatakan bahwa dulunya juga memiliki sepeda motor yang dimodifikasi untuk pacu kecepatan. Ia tercatat pernah menunggangi Suzuki Satria FU. Hanya saja, dewasa ini kuda besinya telah dijual. Ia sudah jarang mengikuti tren tersebut lantaran telah memiliki istri dan anak.
Kepada koran ini Cuplis mengaku bahwa dirinya hanya sebatas menjadi penonton dan penikmat saja. Tidak pernah terlibat langsung dengan aksi pacu adrenalin tersebut. Meski kini telah jarang menonton langsung, tetapi ia masih sering mendapatkan informasi kapan dan di mana balapan dilaksanakan.
Ia mengatakan bahwa aksi tersebut biasanya dilaksanakan pada malam minggu. Waktunya menunggu hingga jalanan sepi dan dirasa aman untuk memacu kuda besi. Normalnya, para joki akan ucul atau start pada dini hari. Antara pukul 02.00 ke atas.
“Kadang sampe subuh gurung ucul-ucul (Terkadang sampai subuh juga belum start, Red),” imbuhnya.
Ia mengamini bahwa aksi balap liar tersebut tidak jauh dengan adanya taruhan. Baik antarbengkel yang bertarung maupun para penonton yang hadir. Nilainya terbilang cukup fantastis. Taruhan antarbengkel tersebut dimulai dari Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.
Di Kota Kediri, trek yang biasa digunakan untuk aksi tersebut ada di beberapa titik. Salah satu trek andalan berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Ngronggo, Pesantren. Lintasan yang digunakan antara rel kereta api hingga simpang empat traffic light. Sekitar 1 kilometer panjangnya.
Jalur tersebut dipilih karena aspalnya relatif bagus. Mulus tanpa ada lobang maupun gundukan. Jalurnya pun lurus. Cocok untuk menggeber kuda besi dalam trek 200 meter.
Selain di sana, jalur yang cukup dijadikan pilihan para penggila kecepatan tersebut berada di sepanjang Jalan Airlangga hingga perempatan Jalan Dhoho. Namun, biasanya di sana hanya untuk trek mencoba kecepatan kuda besi saja. Bukan untuk balapan liar yang sebenarnya.
“Cuma mencoba sepeda motor saja atau paling nggak ya antar teman saja. Kalau mainnya biasanya tetap di Ngronggo,” sambungnya.
Sementara itu, Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Kediri Yoga Eka membenarkan bahwa jalan Airlangga sering ditemukan aksi balap liar. Pihaknya beberapa kali juga terlibat langsung dalam patroli gabungan dengan Polres Kota Kediri dalam razia tersebut.
Biasanya aksi tersebut memang sering ditemui pada akhir pekan. Terutama pada Sabtu malam. Mulai pukul 22.00 ke atas mulai terasa geliat para pembalap liar tersebut.
Bahkan, akibat tren tersebut Dishub sampai tidak membuat marka social distancing di traffic light Airlangga. Pasalnya, di sana sering kali dijadikan titik start balapan. “Nanti diberi marka itu mereka malah seperti balap MotoGP,” tandas Yoga.
Oleh karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan unsur TNI dan Polri. Hingga akhirnya disepakati bahwa jalur tersebut tidak usah diberi marka tersebut.
Sejatinya, jalur serupa masih ada beberapa lagi di Kota Kediri. Hanya saja, selalu berpindah-pindah. Bahkan, pada Sabtu (23/1) lalu juga ada sekelompok pemuda yang mencoba aksi balap liar di Jalan PB Sudirman. Sebanyak 20 pemuda sempat diamankan oleh Polres Kota Kediri dalam aksi tersebut.
“Dari 20 pemuda tersebut, kami mengamankan sebanyak 10 sepeda motor,” terang Kasubag Humas Polres Kediri Kompol Kamsudi. Ia mmenambahkan bahwa 20 pemuda yang diamankan masih berusia di bawah umur. Beberapa kendaraan juga tidak dilengkapi surat-surat yang jelas. (tar/fud)
Editor : adi nugroho