Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tambang Pasir Liar di Brantas: Omzet Rp 3 Miliar Hanya dari Satu Titik

adi nugroho • Jumat, 29 Januari 2021 | 21:57 WIB
tambang-pasir-liar-di-brantas-omzet-rp-3-miliar-hanya-dari-satu-titik
tambang-pasir-liar-di-brantas-omzet-rp-3-miliar-hanya-dari-satu-titik

   KABUPATEN, JP Radar Kediri - Ada alasan mengapa persoalan penambangan pasir liar di aliran Sungai Brantas selalu sulit dihilangkan. Alasan itu adalah, perputaran uang di bisnis ini  benar-benar menggiurkan. Bahkan boleh disebut sangat fantastis!



Simak saja, dari satu titik penambangan pasir di Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, uang yang dihasilkan bisa mencapai Rp 3 miliar dalam satu bulan! Angka ini muncul dari penambangan liar di Dusun Tempursari yang baru saja menjadi lokasi insiden tewasnya sopir truk pasir akibat tenggelam di sungai.



Ya, lokasi itu memang menjadi basis utama bagi aktivitas penambangan ‘emas hitam’ di Kecamatan Mojo. Ketika masih beroperasi, setiap hari ada puluhan truk yang berlalu-lalang. Kapasitas produksi penambangan pasir ini sangat besar karena para pekerjanya menggunakan tiga mesin diesel untuk menyedot pasir dari dasar sungai.



“Satu mesin (diesel) bisa untuk 30 truk dalam sehari,” ujar salah satu warga Desa Sukoanyar yang tidak mau disebutkan identitasnya.



Dari mana muncul angka Rp 3 miliar sebulan? Warga itu menerangkan, harga satu rit pasir-istilah menyebut pasir sebanyak satu truk-saat ini adalah Rp 1,2 juta. Bila sehari bisa menyedot untuk 30 truk berarti uang yang dihasilkan para penambang itu mencapai  Rp 36 juta dalam sehari. Itu hanya dari satu mesin diesel saja.



Padahal aktivitas galian C ilegal itu berlangsung setiap hari. Dalam sebulan satu mesin diesel bisa ‘menyedot’ uang mencapai Rp 1 miliar. Bila yang digunakan tiga mesin, artinya omzet mereka adalah Rp 3 miliar sebulan.



Omzet itupun sangat sedikit yang ‘terpotong’ pengeluaran. Yang paling terlihat hanyalah biaya operasional mesin. Terutama untuk bahan bakar mesin diesel. Selain itu, ada informasi para sopir truk yang membawa pasir membayar ‘retribusi’ pada salah satu kelompok di tempat itu senilai Rp 20 ribu per sekali lewat.



Menurut warga itu, aktivitas penambangan bisa berlangsung sehari penuh. Mulai pukul 07.00 sampai 17.00. “Tapi sudah satu minggu ini semua berhenti,” ungkapnya.



Berhentinya aktivitas para penambang di tempat ini tak terlepas dari insiden tewasnya sopir truk (21/1). Mereka takut karena kejadian itu mendapat perhatian besar dari aparat. Saat kejadian pun mereka tak berani menolong rekannya itu hingga selamat. Mereka memilih melarikan diri karena takut bertemu dengan aparat hukum.



Sementara itu, polisi juga berusaha untuk menghentikan aktivitas terlarang tersebut. Mereka menyita tiga mesin diesel yang digunakan sebagai penyedot pasir dari tempat itu. Tiga mesin itu ditinggalkan oleh para penambang setelah kecelakaan.



“Mesin sekarang diamankan di polsek untuk dilakukan penyelidikan,” tutur Kanit Reskrim Polsek Mojo Ipda Prayitno.



Prayitno membenarkan bila saat ini aktivitas penambangan di Dusun Tempursari berhenti total. Para penambang tak berani beraktivitas lagi usai insiden itu. (c5/fud)



 



Fakta-Fakta Tambang Pasir Liar Dusun Tempursari



-         Menggunakan tiga mesin penyedot pasir. Satu mesin mampu menghasilkan pasir sebanyak 30 rit atau 30 truk.



-         Harga satu rit pasir saat ini Rp 1,2 juta. Dalam sehari, satu mesin bisa menghasilkan pemasukan Rp 36 juta, artinya dalam sebulan mencapai Rp 1 miliar!



-         Berdasarkan informasi warga, sopir truk membayar ‘retribusi’ Rp 20 ribu setiap kali keluar dari lokasi. Uang itu dibayarkan kepada kelompok tertentu.



-         Usai insiden tewasnya sopir truk pasir, sampai saat ini aktivitas di tempat ini berhenti total.



-         Polisi menyita tiga mesin diesel yang biasa digunakan para penambang.



 



Editor : adi nugroho
#radar kediri #hukum #sungai brantas #polres kediri