KABUPATEN, JP Radar Kediri - Sekitar 300-an meter arah utara gapura masuk Kecamatan Pare dari arah Badas ada satu jembatan. Jembatan itu masih masuk wilayah Desa Bringin, Kecamatan Badas. Dan, jembatan itu selama ini dikenal sebagai tempat mangkal para anak jalanan (anjal).
Bukti bahwa lokasi itu jadi tempat mangkal para anjal ada pada data yang dimiliki dinas sosial (dinsos). Selama April lalu tim gabungan dinsos, dinkes, dan satpol PP telah mengamankan 30 anjal dari lokasi tersebut.
“Bulan April, dua minggu kami lakukan razia di seluruh wilayah Kabupaten. Nah, yang di Badas itu yang paling banyak,” terang Kabid Rehabilitasi Sosial Dyiah Satiana kemarin.
Menurut Nana, panggilan akrab Dyiah Setiana, razia gabungan itu sebenarnya merupakan upaya pencegahan Covid-19. Sebab, para anjal itu tak mengindahkan protokol kesehatan di masa pandemi. Para anjal itu sering bergerombol.
“Mereka ini kan bergerombol. Padahal kan tidak boleh,” kata Nana.
Saat tim gabungan melakukan operasi tak semua anjal dapat diamankan. Banyak di antara mereka yang berhasil melarikan diri. “Begitu ada razia itu mereka lari,” kata Nana.
Khusus di Jembatan Bringin tim gabungan mendapat keluhan dari masyarakat. Menurut Nana, pihaknya mendapat banyak laporan dari masyarakat yang terganggu. Jembatan itu sering digunakan para anjal untuk bergerombol. Nyaris setiap hari sekitar 30 anak yang bergerombol di sana. Para anjal itu juga membawa anjing.
“Anjing yang dibawa itu sering datang ke warung dekat jembatan. Pemilik warung mengaku terganggu dengan keberadaan mereka. Mengganggu para pelanggannya,” terang Nana.
Menurut Nana, pemilik warung tak berani menegur. Karena mereka bergerombol. “Takut dikeroyok,” imbuh Nana.
Selain itu, informasi yang diperoleh Nana, jembatan itu juga digunakan untuk tidur para anjal. Biasanya mereka tidur di kolong jembatan. “Paginya digunakan untuk bergerombol,” tutur Nana.
Saat Jawa Pos Radar Kediri mendatangi Jembatan Bringin kemarin sudah tak ada lagi anjal di sana. Bila dilongok ke bawah, memang ada ruang yang tak begitu luas di bawah jembatan. Di dekatnya terlihat ada timbunan sampah.
Fahri, 18, warga yang rumahnya tak jauh dari jembatan, membenarkan tempat itu sering menjadi tempat berkumpul para anjal. Namun Fahri tak tahu aktivitas mereka. Fahri juga tak tahu jika tempat itu digunakan untuk tidur oleh para anjal. “Biasanya memang digunakan berkumpul anak punk-punk-an. Tapi nggak tahu, apa tinggal di jembatan itu,” terang Fahri.
Para anjal yang bisa diamankan petugas rata-rata berusia 14 hingga 16 tahun. Mereka tak hanya berasal dari luar daerah tapi juga dari Kediri. Di antaranya dari Mojokerto, Ngawi, Nganjuk, dan Jombang. “Sementara yang lokalan dari Ngasem dan Kepung,” tutur Nana.
Menurut Nana lagi, para anjal yang berhasil diamankan petugas mereka dicek suhu terlebih dahulu. Jika suhu tubuh mereka normal langsung dipulangkan. Terutama yang dari wilayah Kediri. “Sementara yang dari luar wilayah Kediri dibawa ke kantor dulu,” terang Nana.
Kini di kantor Dinsos Kabupaten Kediri sudah tidak menampung anjal. Mereka sudah dipulangkan semua. “Tapi kalau ada laporan lagi kami akan turun lagi. Ada anjal yang dirasa membahayakan atau dirasanya menimbulkan penyebaran Covid-19 kami langsung turun,” tegas Nana.
Terganggu Keberadaan Anjal
- Para anjal bergerombol di Jembatan Bringin sepanjang waktu.
- Bila malam hari para anjal menggunakan kolong jembatan sebagai lokasi tidur.
- Selain bergerombol, para anjal juga membawa anjing. Anjing ini sering keluyuran di warung warga.
- Warga tak berani menegur karena takut dikeroyok.
Editor : adi nugroho