Banyak modus pelaku kejahatan seksual memperdayai korbannya. Selain bujuk rayu, juga iming-iming uang atau barang. Bagaimana pandangan psikolog Vivi Rosdiana. Berikut wawancaranya.
Baru saja ada kasus pencabulan anak di bawah umur. Pelaku membujuk dengan memberikan makanan gratis. Bagaimana agar kejadian tersebut tidak terulang?
Orangtua harus mengajarkan anak tentang kewaspadaan.
Contoh mengajarkan kewaspadaan seperti apa?
Apabila anaknya masih kecil, salah satu contohnya adalah memberitahu bahwa makanan tersebut tidak sehat. Karena selama di luar rumah, tidak ada yang mengawasi. Dengan diajarkan hal tersebut, hal itu menjadi remnya si anak. Sehingga anak tahu, kalau dikasih barang seperti ini anak lebih waspada. Terutama pada orang yang tidak dikenal. Kepada anak yang berusia delapan tahun dapat dijelaskan secara konkret. Salah satunya dengan cara menceritakan, kenapa tidak boleh menerima barang dari orang lain. Terutama kepada orang yang tidak dikenal. Karena orang lain tujuannya belum tentu baik.
Lalu bagaimana mencegahnya?
Kalau untuk pencegahan, tujuannya agar tidak terjadi kejadian yang sama. Maka ketika anak menginginkan makanan, jajan atau barang yang diinginkannya, orangtua harus mengajarkan agar tidak minta kepada orang lain. Atau orang yang tidak dikenal. Untuk mengajarkan hal tersebut, tidak cukup hanya diberitahukan sekali. Namun lebih efektif ketika akan pergi atau saat akan tidur.
Bagaimana cara mengajarkannya ?
Dengan cara mengatakan kepada si anak agar tidak meminta kepada orang lain selain orang tua atau orang yang dikenalnya. Kasih contoh saja langsung, jika bukan ayah, ibu ataupun nenek, jangan minta ke orang lain kecuali kepada guru. Karena secara psikis, jika anak tidak mendapatkan pengertian mana yang boleh mana yang tidak boleh. Ia tidak akan paham, pada siapa dia dapat meminta apa yang diinginkan. Seperti halnya meminta uang, tentu saja anak tidak diperbolehkan meminta kepada orang asing kecuali guru. Kenapa guru, karena guru merupakan pengganti orang tua selama di sekolah.
Apa tujuan dengan diajarkan hal tersebut?
Dengan mengajarkan hal tersebut kepada anak dari awal, secara psikologis anak akan memahami mana saja yang boleh dan tidak dilakukan. Sehingga ketika sedang tidak memiliki apa yang ia inginkan, tidak langsung meminta kepada orang lain. Karena ketika meminta kepada orang yang tidak dikenal, tidak dapat memastikan orang tersebut memiliki niatan buruk atau tidak.
Contoh yang mudah untuk ditetapkan ?
Setiap hari, untuk kasus seperti ini. Kan dia meminta kepada orang lain, anak harus diberikan pengertian. Misalnya si anak hanya dapat menggunakan uang yang diberikan untuk jajan. Namun ketika uang tersebut telah habis, tidak boleh meminta kepada orang lain. Apabila si anak tidak diberikan uang, setidaknya orang tua memberikan ganti berupa bekal makanan.
Berganti topik, kali ini tentang kasus pemerkosaan. Apa yang membuat seorang kakek tega memperkosa remaja yang memiliki keterbelakangan mental?
Pertama, dikarenakan dorongan seksual. Karena laki-laki semakin tua tidak menjadikan dia tidak bisa menyalurkan hasratnya. Pada kerangsangannya, kalau laki-laki itu cepat. Kedua, melakukan hal tersebut kepada anak yang psikisnya di bawah rata-rata itu untuk keamanan dia (pelaku).
Kenapa merasa aman?
Karena anak di bawah rata-rata tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Dengan hal tersebut, membuat pelaku merasa aman. Bisa saja ketika hasrat seksual tersebut muncul, yang ada hanya korban itu. Maka ketika dia (pelaku) tidak bisa mengerem hasrat tersebut, dia tidak peduli melakukan hal tak senonoh dengan siapa saja.
Apakah ada yang salah dengan orang seperti ini?
Pastinya ada, karena dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Artinya begini, apakah setiap hasrat muncul harus melampiaskan hasrat tersebut. Pastinya kan tidak, dilihat dulu apakah ini benar atau tidak. Tapi kalau psikisnya orang, kembali lagi ke id (keinginan), ego, dan super ego. Pada kasus ini, id adalah sebuah rangsangan. Sementara egonya adalah harus menyalurkan bentuk rangsangan tersebut. Pada saat super ego, menentukan apakah suatu perbuatan atau tidak. Namun ketika super ego terdapat gangguan, dia akan memuaskan hasrat seksual kepada siapa saja.
Editor : adi nugroho