KEDIRI KABUPATEN - Kebakaran hutan di lereng Gunung Wilis makin meluas. Api yang semula hanya membara di kawasan Kabupaten Nganjuk, kemarin, merembet ke Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan. Mengantisipasi dampak lebih besar, petugas berusaha membuat ilaran sebagai sekat bakar.
“Lokasinya di puncak, saat ini diprediksi kawasan yang terbakar sekitar satu hektare,” ujar Nur Adin, kepala seksi perencanaan Perum Perhutani KPH Kediri.
Dia menyampaikan, rembetan api dari lereng wilayah Nganjuk itu diketahui Selasa pagi (11/9). Meski tidak sebesar seperti di Ngetos, Nganjuk, hingga kemarin sejumlah titik api belum bisa dipadamkan. Ini lantaran medan menuju titik api sulit ditempuh.
Sebenarnya ada dua jalur alternatif. Adin mengungkapkan, ada dua pos petugas. Yakni di Goliman, Desa Parang, dan di kawasan Sumberpodang, Desa Joho, Kecamatan Semen. “Kami memadamkan api sekaligus membuat sekat bakar di titik yang bisa kami jangkau,” tegasnya.
Langkah itu diambil karena petugas tidak bisa mengambil risiko. Keselamatan personel, menurut Adin, menjadi faktor utama paling diperhatikan. Keputusan itu mengacu tragedi 2015 silam. Saat itu, kebakaran lereng Wilis di Ponorogo. Ada petugas dan masyarakat yang menjadi korban karena api tak mudah dipadamkan.
“Itu pelajaran berharga bagi kami, sebelum memadamkan api selalu mengadakan apel. Mengimbau petugas yang lain bahwa keselamatan harus lebih diperhatikan,” jelasnya.
Sebelumnya, Perum Perhutani KPH Kediri telah mengimbau warga agar menjaga hutan di sekitar lereng Wilis. Terutama daerah belukar yang kondisinya kering. Ini menyusul terbakarnya kawasan hutan Perhutani di Ngetos, Nganjuk pada Minggu (9/9).
Selain imbauan, petugas juga sedang membuat ilaran untuk sekat bakar. Tepatnya di sekitar Air Terjun Ngleyangan, Parang. Selain sekat bakar yang dibuat tim gabungan KPH Kediri, LMDH, BPBD, TNI juga Polri, di perbatasan Nganjuk dan Kediri juga sudah ada sekat bakar alami. Sekat bakar tersebut berupa jalur seperti lembah yang merupakan aliran air. “Sekat alami itu lebarnya sepuluh meter. Biasa kami sebut daerah Banyulawe,” papar Adin.
Ia mengatakan, kebakaran terjadi karena beberapa faktor. Selain alam, indikasi lainnya juga faktor manusia. Seperti warga yang sering mengambil madu di hutan. Mereka pasti memanfaatkan obor untuk pengasapan sarang lebah.
Selain itu, saat menangkap burung menggunakan jaring. Pengasapan menjadi cara penangkap untuk menggiring burung menuju jaring. “Namun kita tidak bisa menuduh langsung siapa pelakunya. Yang pasti saat ini kita lakukan tindakan pencegahan dengan sosialisasi bahaya kebakaran hutan,” beber Adin.
Selain masyarakat sekitar, sosialisasi juga disampaikan pada para pendaki gunung, pencari hewan, pencari madu, dan yang beraktivitas di hutan Wilis. Karena saat ini kemarau dan sangat berpotensi kebakaran, Adin meminta, masyarakat tidak menyalakan api di kawasan hutan. “Ini untuk mengantisipasi kebakaran seminimal mungkin,” tegasnya.
Kerugian yang ditimbulkan selain kerusakan hutan yang menyebabkan kematian vegetasi yang ada. Maka habitat satwa disana juga akan terusik. Hingga kesuburan tanah pun akan menurun. “Di beberapa lokasi juga akan mengalami kerusakan pipa air, sehingga ini akan sangat merugikan bagi warga yang bergantung pada pasokan air dari pipa tersebut,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho