Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Unjuk Rasa, Warga Badas Protes Bebek Peking

adi nugroho • Jumat, 27 Juli 2018 | 01:56 WIB
unjuk-rasa-warga-badas-protes-bebek-peking
unjuk-rasa-warga-badas-protes-bebek-peking

          KEDIRI KABUPATEN - Puluhan massa menggeruduk CV Putra Prima Mandiri di Dusun Pohblemblem, Desa/Kecamatan Badas kemarin (24/7). Mereka dan kelompok massa yang menamakan Komunitas Gerakan Sikat Pengotor Lingkungan (Gaspol) menuding rumah pemotongan bebek peking itu menjadi sumber pencemaran Sungai Kaliwonto.


          “Kami sangat menyayangkan pengolahan limbahnya,” keluh Ketua Gaspol Muhammad Hudlori, usai mediasi dengan pihak pabrik.


Menurutnya, pabrik ini telah berdiri sejak lima tahun yang lalu. Namun pengolahan limbahnya masih belum sesuai standar.


          Hudlori mengeluh, dari pihak pabrik yang menemui pengunjuk rasa kemarin bukanlah pemilik. Hanya penanggung jawab saja. Karena itu belum ada kesepakatan terkait tuntutan massa. Hanya, pihak pabrik berjanji bersedia melakukan mediasi lagi. “Besok (hari ini, Red) akan ada mediasi lagi di Balai Desa Badas,” tegasnya.


          Menurut Hudlori, pembuangan limbah tempat pemotongan bebek peking itu sangat meresahkan. Mengganggu masyarakat sekitar. Mulai dari bau dan pembuangannya tidak ada filter. “Artinya tidak sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku,” tudingnya.


          Pabrik tersebut, tambahnya, belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). “Salah satu tuntutan (massa), pabrik harus membuat IPAL,” tegasnya.


Akibat pembuangan limbah ke sungai itu, selain bau menyengat, warga juga tidak bisa menggunakan air sungai tersebut untuk kegiatan mencuci. Apalagi untuk mandi. Karena bisa menimbulkan gatal di kulit.


          Selain pembuangan limbah, massa juga mempertanyakan masalah kemitraan yang dijanjikan oleh pabrik kepada warga sekitar. Ia pun juga menyinggung masalah lokasi pabrik yang dekat dengan pemukiman warga. “CSR pun tidak jelas,” keluhnya.


          Namun sayangnya ketika hendak ditanyakan oleh massa, pihak pabrik tidak bisa memberikan kejelasan. Menurutnya hal ini karena pemilik pabrik yang tidak berada di lokasi. Pada pertemuan hari ini Hudlori berupaya agar pemilik pabrik bisa hadir. Agar semua tuntukan warga bisa terpenuhi.


          Kapolsek Pare AKP Mustakim menerangkan, pabrik mengatakan sudah memberikan CSR kepada warga. Seperti santunan untuk anak yatim dan bingkisan Lebaran. “Fungsi pembinaan kontinyu perlu ditingkatkan lagi,” ujarnya.


          Mustakim menegaskan pihaknya mengerahkan 100 personel gabungan Polsek Pare dan Polres Kediri. “Alhamdulillah aman dan kondusif,” imbuhnya.


Massa berdatangan ke lokasi pabrik sejak pukul 14.30 WIB. Namun baru setengah jam setelahnya demontrasi dimulai. Mayoritas massa datang menggunakan sepeda motor. Sebagian menumpang pikap warna putih yang membawa alat pengeras suara. Pikap inilah yang digunakan koordinator massa sebagai tempat orasi.


          Setelah berorasi sekitar setengah jam, massa akhirnya diajak bertemu pihak pabrik untuk melakukan mediasi. Mediasi itu berlangsung dari pukul 15.30 hingga 16.50 WIB.


          Sempat ada ketegangan saat massa menghadang mobil pikap perusahaan yang hendak masuk ke pabrik. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama. Setelah petugas turun tangan, massa bisa dilerai dan mobil bisa masuk ke area pabrik.

Editor : adi nugroho
#kediri #limbah